Senin, 16 Juli 2018

Ambil Jarak Sejenak

❤❤❤❤❤❤❤❤❤
.
.
Ambil Jarak Sejenak
.
.
.
Beberapa waktu yang lalu saat mengikuti kelas KISS mbak @okinaf  di Yogyakarta lagi-lagi seperti di remind banyak hal, terutama tentang perbaikan diri sendiri (baca:transforming behavior skill).
.
🌷🌷🌷
.
.
Why this is so important dan kayanya jadi topik yang ngga kelar2 dibahas? Karena emang perbaikan diri itu berkelanjutan. Mau cari ilmunya aja udah dapet godaan : mending uang segitu dipake kebutuhan yang lain, ah paling kaya kelas2 training lainnya lah, dll. Udah ikut kelasnya pun masih aja ada hal2 yang 'ngga berubah' di diri ink.
.
.
Then I ask myself : nggak berubah apa emang ngga sungguh-sungguh diusahakan untuk berubah? 😥
.
.
Efeknya kemana-mana, ke pasangan yang sering jadi objek telunjuk kita (a.ka. kambing hitam), kurang syukur, ke anak masih marah-marah yang ngga perlu, dll.
.
.
Sering kita (aku sih 😜) kalo lagi ada problem bertubi-tubi ngerasanya masalah itu paling berat & gawat. Padahal sebenernya kita kadang butuh untuk mengambil jarak dari masalah itu sendiri, menempatkan diri kita sebagai observer daripada sebagai pelaku.
.
.
Why? Karena biasanya kita jadi lebih objektif saat jadi pengamat, karena pandangan kita jadi lebih luas daripada ketika kita 'nyemplung' & 'kelelep' waktu jadi pelaku. Instead of "me, my, I", it would be better to be "us, you & I, we".
.
.
Seperti saat deadline kerjaan kantor bertumpuk dihari yang sama, sementara rumah ngga rapih2, sendirian jauh dari support system, bawaannya pengen marah-marah aja... kalo udah gini siapa lagi yang jadi pelampiasan? Biasanya anak & ujung-ujungnya self blaming.
.
.
Maka daripada situasi 'kelelep' ini berlangsung lebih lama, ambil jarak & ganti sudut pandang. Di kelas TBS ada teknik yg diajarkan, namanya disosiasi. Teknik ini mengajarkan kita untuk switch sudut pandang kita dari pelaku ke observer. Lalu saya mulai analisis situasi, membuat peta masalah didalam kepala & mencoba menyederhanakannya. Oke... here' the problems : deadline besok, laporan belum kelar, Mendeley error setelah di update, cucian belom kelar, rumah masih berantakan, anak-anak perlu makan & didampingi (minimal diarahin) mainannya, masak buat makan malam.
.
.
Lalu buat strateginya : cicil laporan, pake cara referensi bawaan words, cucian dibagi beberapa kloter/ laundry, ajak anak-anak merapikan, minimal sapu rumah (ngga perlu rapi2 amat), tawarin mainan yang ada di kamar, masak simple yang ada di kulkas (toh anak2 ngga pernah rewel soal makan).
.
.
Alhamdulillah... ngga keluar energi lebih banyak buat ngomel-ngomel karena fokus buat ngelakuin strategi solusi.
.
.
Sekarang Ibu bisa ngeteh syantik... mau teh Indo, teh China, apa teh Jerman 😀😄
.

MARI BERWISATA KE RUMAH SAKIT

💦💦🅿💦💦

🌷 *NUTRISI PAGI* 🌷

Belajar Menjadi Hamba yg Pandai Bersyukur.

MARI BERWISATA KE RUMAH SAKIT

By. : Jasman Rizal

(Kabiro Humas Sumbar).

Berbagi pengalaman pada sa'at Ayahanda di rumah sakit kemarin, dan betul adanya cerita ini.

Jalan-jalan ke lokasi wisata nan indah-indah di daerah wisata dalam negeri atapun luar negeri  atau ke mall, merupakan hal yg sering kita dengar.

Bahkan kita pun sering melakukannya.

Tetapi jalan jalan ke Rumah Sakit merupakan sesuatu yg wajib kita lalukan..

Beberapa hari saya di rumah sakit dirawat, banyak hal yg perlu kita jadikan refleksi kehidupan. Moga pengalaman ini bisa sebagai bahan renungan bagi kita semua.

Sekali waktu jalan-jalanlah Ke Rumah Sakit, jangan ke Mall saja. Di sana Anda akan  menemukan orang-orang yg nasibnya tidak seberuntung Anda.

Masuklah ke ruang ICU

Lihat, Anda akan menyaksikan pasien yg sedang berjuang mempertahankan nyawanya. Mereka terlihat sangat lemah, sehingga hidupnya dibantu berbagai macam peralatan.

Mulai dari peralatan monitor untuk memantau denyut nadi dan jantung serta pernapasan. Mulut dipasang selang untuk memasukkan bahan nutrisi. Di hidungnya terpasang selang untuk mengalirkan oksigen sebagai alat bantu pernapasan. Selang lainnya terpasang untuk mengeluarkan urine, cairan lambung dari bagian tubuh lain. Jika mereka sadar mungkin mereka dihantui ketakutan akan malaikat maut yg siap siaga menjemputnya.

Bandingkan dengan Anda saat ini. Hidup Anda relatif tidak dibantu alat apapun. Bernapas dengan leluasa di alam bebas tanpa harus dibantu oksigen. Jantung berdegup dengan normal tanpa bantuan alat. Sehingga Anda bisa beraktifitas dengan leluasa. Berkumpul dengan keluarga.

Tengok pula ruang Kemoterapi

Di sana Anda akan menyaksikan orang-orang yang tengah berjuang dengan penyakit kankernya. Lihatlah wajah-wajah mereka. Tidak ada keceriaan. Tubuh mereka terlihat kurus, Kulit mereka relatif menghitam, sementara rambut mereka semakin hari semakin menipis. Bandingkan dengan Anda. Kini mungkin Anda sedang berdandan di depan cermin. Sambil siap-siap jalan-jalan bersama teman mencari tempat yg cocok untuk ber-swa foto.

Kunjungi pula ruang Hemodialisa

Di sana puluhan orang berjejer berbaring di ranjang dengan tangan terikat selang. Mesin hemodialisa sedang menggantikan peran ginjal mereka yg tidak berfungsi alias gagal ginjal. Mereka bolak-balik ke Rumah Sakit seminggu dua kali selama seumur hidup. Di luar itu, mereka tidak bebas makan dan minum seperti orang sehat.

Bandingkan dengan hidup Anda. Ginjal anda berfungsi dengan normal tanpa bantuan apapun dan siapa pun. Anda pun leluasa memakan dan meminum apa saja. Tidak seperti pasien gagal ginjal. Minum tidak boleh sesuka hati. Makan buah-buahan menyebabkan sesak nafas.

Tengok pula ruang rawat inap

Di sana Anda akan menemukan pasien beraneka macam penyakit. Mulai dari yg sesak napas, susah buang air besar, stroke, jantung, diabetes, hingga pasien yg mengalami penyakit berat seperti radang paru-paru, kanker, hingga bocor jantung.

Dan yang terakhir

Jangan lupa Anda tengok juga ke bagian administrasi.

Anda akan menyaksikan keluarga pasien menyerahkan uang jutaan bahkan puluhan jutaan rupiah sebagai biaya pengobatan salah satu anggota keluarganya.

Wallahu a’lam, mungkin uang yg diserahkan ke pihak rumah sakit itu hasil tabungan selama bertahun-tahun ataupun uang pinjaman. Terlihat wajah sembilu mereka setelah menyelesaikan administrasi. Di satu sisi gembira karena anggota keluarganya bisa pulang ke rumah. Namun di sisi lain sedih karena kehilangan uang yg tidak sedikit jumlahnya.

Bandingkan dengan Anda... Uang anda mungkin kini aman di dompet atau bank sehingga dengan leluasa bisa Anda gunakan untuk keperluan apapun.

(Sungguh, orang-orang yg sehat harus benar-benar bersyukur atas kesehatan yang Alloh berikan kepada kita.

Dan pasien-pasien yg kini berada di Rumah Sakit lah yg akan mengingatkannya.

Dengan menyaksikan orang-orang yg kini terbaring di rumah sakit ini selayaknya hati kita tergugah untuk benar-benar tunduk dengan ayat :

“Maka nikmat Tuhanmu yg manakah yg kamu dustakan ?”

Semoga kita selalu sehat, menjadi ikhtiar dan syukur kita semua menuju dan menjaga kesehatan diri yang Allah SWT berikan. Aamiin ..

Nikmat Alloh yg mana lagi yang kau dustakan, maka bersyukurlah kepada Alloh SWT yg masih memberikan kesehatan kepada kita.

Ternyata sehat itu mahal.. maka jagalah kesehatan..

Sabtu, 21 Mei 2016

Hasil Dari Mengaji

Betapa agungnya ilmu, betapa hebatnya belajar, dan betapa mulianya mengajar.

"Menuntut ilmu karena Allah adalah bukti ketundukan padaNya", ujar Sayyidina Mu'ad ibn Jabal. "Mempelajarinya dari seorang guru adalah ibadah. Melangkah menuju majelisnya adalah pembuka jalan surga. Duduk di tengah kajiannya adalah Taman Firdaus. Membahasnya adalah bagian dari jihad. Mengajarkannya adalah tasbih. Menyampaikannya kepada orang yang belum tahu adalah shadaqah. Mencurahkannya kepada orang yang berhak menerimanya adalah qurbah."

Tapi di setiap jalan keluhuran manusia, syaithan juga berjaga-jaga. Maka pada perkara seindah mengajipun, kita sewajibnya waspada. Mari berhenti sejenak untuk bertanya, ke mana buku yang kita baca, kajian yang kita cerna, dan ilmu yang kita telaah ini membawa?

Apakah mengaji ini membawa kita pada perasaan "Ana khairun minhu, saya lebih baik daripada dia", hingga kita merasa paling berada di atas kebenaran, paling berhak atas ridhaNya dan surga, lalu menganggap diri lebih utama dan memandang sesama remeh dan hina?

Subhaanallaah; yang seperti ini ada pendahulunya, dengan ibadah yang tak tertandingi di mayapada, tapi ujungnya terlaknat sepanjang masa.

"Berkata Iblis, 'Aku lebih baik daripada dia.." (QS Al A'raaf: 12)

Ataukah mengaji ini membawa kita pada perasaan "Rabbanaa zhalamnaa anfusanaa.. Duhai Rabb kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri..", lalu kita kian menginsyafi aneka kekurangan diri, merasa betapa lemahnya kita, betapa mudah jatuh dalam alpa, serta betapa faqir akan ampunan dan rahmatNya?

Masyaallaah; yang seperti ini ada pendahulunya, dimuliakan di atas para malaikat, dipilih di antara semesta, menjadi bapak yang membawa keturunannya mewarisi bumi dunia. Dia bermaksiat, tapi bertaubat, menjadikan cinta Allah padanya berlipat-lipat.

"Berkata Adam dan Hawa, 'Duhai Rabb kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri. Andainya Kau tak mengampuni dan mengasihi kami, niscaya kami termasuk mereka yang rugi." (QS Al A'raaf: 23)

Lalu apakah mengaji ini membawa kita pada perasaan, "Innamaa utiituhu 'alaa 'ilmin 'indii.. Aku diberi segala kelimpahan ini karena ilmu yang ada padaku"; hingga kita menyangka kitalah makhluq paling utama, dengan titian hidup paling gemerlap, dan sesama dengan berbagai deritanya adalah karena dosa mereka yang lebih banyak atau ibadah yang lebih cekak?

Subhaanallaah, yang seperti ini ada pendahulunya, dengan perbendaharaan yang kunci-kuncinya tak dapat dipikul orang-orang perkasa, tapi terbenamnya dia ke bumi menjadikan namanya abadi sebagai sebutan untuk harta temuan yang tergali.

"Berkata Qarun, 'Sesungguhnya aku diberi segala kelimpahan ini disebabkan oleh ilmu yang ada padaku.." (QS Al Qashash: 78)

Ataukah mengaji ini membawa kita pada keinsyafan, "Haadzaa min fadhli Rabbi, liyabluwani a asykuru am akfur.. Ini semata-mata adalah karunia dari Rabbku; untuk menguji diriku apakah aku mampu bersyukur ataukah justru akan kufur"; bahwa bertambahnya nikmat adalah juga kenaikan jenjang ujian yang membuat kita harus kian peka menyembahkan kehambaan?

Masyaallaah yang seperti ini ada pendahulunya, dialah raja dunia yang tak hanya berkuasa atas manusia, tapi juga hewan, burung, jin, serta angin; tapi kerendahan hatinya pada Sang Pencipta membuatnya menjadi buah bibir sejarah.

"Berkata Sulaiman, "Ini semata-mata adalah karunia dari Rabbku; untuk menguji diriku apakah aku mampu bersyukur ataukah justru akan kufur." (QS An Naml: 40)

Juga, apakah mengaji kita membuat kita ingin diakui dan disebut-sebut dalam gelar megah, seperti ucapan, "Innii Anal 'Aziizul Kariim.. Sungguh aku ini orang perkasa lagi mulia"?

Subhaanallaah, yang seperti ini ada pendahulunya. Lelaki yang tak menyangkal kejujuran Rasul mulia, yang tahu benar kebenaran di pihak siapa, namun demi kepentingan dan harga diri lebih memilih membutakan hati, memusuhi, dan binasa dalam api, hingga Allah memuaskan siksa itu baginya dengan gelar yang dipilihnya. Pada Abu Jahl dikatakan:

"Rasakan 'adzab ini, sungguh engkau lelaki perkasa lagi mulia!" (QS Ad Dukhaan: 49)

Ataukah mengaji ini membuat kita kian merasa berhajat pada Allah, bersangka baik padaNya, dan bersandar sepenuhnya hingga berkata, "Rabbii innii limaa anzalta ilayya min khairin faqiir.. Duhai Rabbku, sungguh aku terhadap apa yang Kauturunkan di antara kebaikan amat sangat memerlukan"?

Masyaallaah; yang inipun ada pendahulunya, seorang yang sejatinya sungguh perkasa, tepercaya, lagi mulia, yang di tengah takut, lelah, dan laparnya masih bisa menawarkan bantuan pada sesama lagi sama sekali tak meminta terimakasih dan balasan dari mereka. Cukup Allah baginya.

"Berkata Musa, 'Duhai Rabbku, sungguh aku terhadap apa yang Kauturunkan di antara kebaikan amat sangat memerlukan." (QS Al Qashash: 24)

Kemudian apakah mengaji ini membuat kita terjangkit keinginan menyingkirkan, "Layuhrijannal a'azzu minhal adzall.. Sungguh orang mulia ini akan mengeluarkan orang hina.."; sebab kita merasa lebih berhak atas apa-apa, mana-mana, atau sesiapa di dalam perlombaan yang semu maupun yang nyata?

Subhaanallaah; yang inipun ada pendahulunya, bagai pokok kayu tersandar, memikat bicaranya, mempersaksikan isi hatinya dengan sumpah bermadah, tapi sebenarnya hatinya luka, penyakit tumbuh di sana, permusuhan dinyalakan apinya, kejahatan dibalut sutra, dan dia mengira tiap teriakan keras ditujukan padanya.

"Berkata 'Abdullah ibn Ubay ibn Salul dan pengikutnya, 'Jika kita kembali ke Madinah, maka sungguh orang mulia ini pasti akan mengeluarkan orang hina itu." (QS Al Munafiqun: 8)

Ataukah mengaji menjadikan cita kita sederhana tapi penuh kerendahan hati, "Tawaffanii musliman, wa alhiqnii bish shaalihiin.. Ya Allah, wafatkan aku sebagai seorang muslim yang berserah diri, dan himpunkan aku bersama orang-orang yang shalih"; merasa tak pantas menjadi orang shalih, hanya karena rahmat Allah maka teranugerahi nikmat dihimpun bersama mereka.

Masyaallaah, yang inipun ada pendahulunya, seorang bernasab terbaik, yang lika-liku hidupnya dalam Al Quran dikisahkan sebagai cerita terbaik, dengan pengisahan terbaik.

"Berkata Yusuf putra Ya'qub putra Ishaq putra Ibrahim, 'Ya Allah, wafatkan aku sebagai seorang muslim yang berserah diri, dan himpunkan aku bersama orang-orang yang shalih." (QS Yusuf: 101)

Dan apakah mengaji ini menjadikan kita suka berkata, "Maa uriikum illaa maa araa, wa maa ahdiikum illaa sabiilar rasyaad.. Aku tidak mengemukakan kepadamu melainkan apa yang kupandang baik; dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar"; sebab ilmu yang dikhazanahi membuat kita merasa mengetahui segala hal padahal ia nafsu diri?

Subhaanallaah; yang seperti ini ada pendahulunya, abadi sebagai puncak kesombongan manusia, menjadikan diri sebagai tuan maha tinggi, lalu menganggap dia berhak memaksakan mana yang benar dan mana yang batil.

"..Berkata Fir'aun, 'Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pandang baik; dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar." (QS Ghaafir: 29)

Ataukah mengaji ini membuat kita mampu menghargai bahkan si kecil dalam perintah Allah yang mutlak sekalipun, "Ya Bunayya, innii araa fil manaamii annii adzbahuka fanzhur madzaa taraa.. Duhai putraku, kulihat dalam mimpi perintah Allah untuk menyembelihmu, cobalah kemukakan apa yang jadi pandanganmu"; yakni sepenuh hati memahami bahwa agama harus tegak di atas pemahaman dan tiada manfaat untuk memaksakan pengertian kita yang sungguh keshahihannya jauh dibanding mimpi di atas.

Sungguh inipun ada pendahulunya, seorang Kekasih Ar Rahman yang lulus terus dalam berlapis-lapis ujian cinta. Dia meyakini perintah Rabbnya, tapi betapa berharganya musyawarah dengan siapapun yang terdampak perintah itu.

"Berkata Ibrahim, 'Duhai putraku, kulihat dalam mimpi perintah Allah untuk menyembelihmu, cobalah kemukakan apa yang jadi pandanganmu." (QS Ash Shaaffaat: 102)

Semoga Allah membimbing ilmu kita, belajar kita, mengajar kita; agar mengaji ini membawa kita menyusuri jalan cahaya Adam, Sulaiman, Musa, Yusuf, serta Ibrahim; bukan lorong gelap Iblis, Qarun, Abu Jahl, 'Abdullah ibn Ubay, serta Fir'aun.

"Dan katakanlah hai Muhammad, 'Duhai Rabbku, tambahkanlah padaku ilmu." (QS Thaaha: 114)

Oleh : @salimafillah

Senin, 22 Februari 2016

Penghibur Hati, Penguat Iman

JANGAN lupa:

Ketika Anda terluka oleh orang-orang yang sedarah dengan Anda, ingatlah Nabi Yusuf sebagai orang yang dikhianati oleh saudara-saudaranya sendiri.

Ketika Anda ternyata menemukan orang tua Anda menentang Anda, ingatlah Nabi Ibrahim ketika ayahnya sendiri membawanya pada api.

Ketika Anda terjebak oleh masalah di mana sepertinya tidak ada jalan keluar, ingatlah Nabi Yunus ketika terjebak di dalam perut ikan paus.

Ketika seseorang memfitnah Anda, ingatlah Aisyah yang difitnah oleh seluruh kota ketika itu.

Jika Anda sakit dan Anda menangis karena rasa sakit, ingatlah Nabi Ayub. Apakah sakit Anda melebihi sakitnya sang Nabi?

Ketika Anda kesepian, ingatlah Nabi Adam yang diciptakan sendirian.

Bila Anda tidak dapat melihat logika di sekitar Anda, ingatlah Nabi Nuh yang membangun sebuah bahtera tanpa mempertanyakan untuk apa.

Jika Anda diejek oleh saudara sendiri, keluarga, teman-teman dan dunia pada umumnya, maka ingatlah pada yang tercinta Nabi Muhammad SAW.

Allah SWT sudah mengutus para nabi itu kepada kita agar kita bisa bertahan dalam kesabaran.

Sumber tulisan:

https://www.islampos.com/ketika-224034/

Sumber gambar:
Watermark pada foto milik akun twitter @zahranaaa

Minggu, 20 September 2015

Wajib Dibaca Semua Warga Indonesia

Ulasan bahaya pornografi oleh Bu Ely Risman. Wajib dibaca oleh semua warga Indonesia. Kalau bukan kita, siapa lagi???

BAHASANYA VULGAR. APA ADANYA TAPI KITA WAJIB TAHU

Barusan nonton Basa Basi di Trans TV. Bintang tamunya Bu Elly Risman. Ngeri sekaligus bikin sedih. Musibah paling bahaya adalah ketika kita ga sadar kalau dalam bahaya besar. Kurang lebih ini kesimpulannya. Untuk para orang tua, silahkan dibaca.

Apa yang beliau paparkan, shocking banget buat para orangtua yang hadir.
Pemaparan awal tentang kesalahan-kesalahan komunikasi orang tua pada anak, bicara terlalu cepat,
bicara terlalu banyak, (ngomel) yang tidak perlu, tanpa sadar berbohong, mengkritik, mengenggurui, dll.

Komunikasi yang salah mengakibatkan anak jadi BLAST. Jiwanya jadi kosong, ga pede, pemarah, dendam sama orang tuanya sendiri.

Beliau ngasih contoh kasus anak kecil yang ngadu ke gurunya, "Bu, kalau aku bunuh ayahku boleh ga? Aku dosa ga?". Ternyata si anak merasa selalu disalahkan dan didikte orang tuanya.

Nah, anak-anak yang BLAST ini adalah sasaran empuk buat pengusaha pornografi karena rata-rata dari mereka pasti akan cari pelampiasan. Sekarang masuk ke bagian industri pornografi. Target market utama mereka adalah anak laki-laki. Kenapa laki-laki? Karena mereka lebih mudah fokus dan hormon testosteron mereka lebih tinggi daripada perempuan. Setiap tahun pebisnis pornografi rapat dengan para ahli dari berbagai disiplin ilmu untuk merencanakan strategi pemasaran yang baru.

Alih-alih mengembangkan produk, mereka memilih untuk 'investasi masa depan' pada anak-anak. Target mereka adalah anak laki-laki yang terpapar pornografi, kalau sudah 33 sampai 35x mast****si berarti sudah bisa dipastikan akan menjadi pelanggan masa depan karena otaknya pasti sudah ketergantungan dengan pornografi (porn addiction).

Yang perlu diketahui, porn addiction jauh lebih merusak otak daripada drugs addiction. Terapinya pun jauh lebih susah. Drug addict bisa diterapi dengan detoxifikasi tapi porn addict harus dengan terapi dan butuh tekad dari yang bersangkutan. Dan kerusakan yang ditimbulkan sekali kita terpapar akan permanen. Paparan pornografi itu berjenjang.

Jadi ibarat sampah, pertama kali mungkin kita akan muntah-muntah nyium baunya. Tapi lama kelamaan, kalau kita nyium sampah (misal tukang sampah) kita akan terbiasa bahkan bisa makan di deket sampah (bahkan ada yang tinggal di TPS tho?)

Begitupun dengan pornografi, setiap levelnya anak akan semakin kebal dan anak butuh melihat yang levelnya lebih tinggi untuk bisa terangsang. Kalau melihat sudah ga 'ngaruh' lagi, mereka akan melakukan. Dan disini bencananya.

Kami dikasih contoh beberapa kasus mengerikan yang pelakunya anak-anak sex addict. Ada audience yang curhat tentang tetangganya, anak kelas 6 SD yang 'ngerjain' adik kandungnya yg berusia 5 tahun. Sekarang si adik malah jadi ketagihan sex.

Ada lagi anak 10 tahun yang menyodomi temennya pake SENDOK! (Ada games yang ngajarin anak-anak untuk menyodomi)

Contoh-contoh mengerikan lainnya. Anak-anak porn addict bisa dikenali. Ada ciri-cirinya. Dan pertanyaan mereka luar biasa.

Kalau anak normal keponya cuman "sex itu apa?". "Bayi itu berasal dari mana?".
Anak-anak porn addict akan bertanya, "Bagaimana cara memasukkan p***s ke dalam v****a?". Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang terlalu vulgar.

Bahkan ada istilah-istilah yang audience aja ga tahu itu apa. Kalau anak sudah 33-35x mast****si, hampir bisa dipastikan akan terjadi incest. Atau dia akan melampiaskan pada temennya di sekolah. Dan itu kasusnya BANYAK. Jadi usia 7 tahun saudara laki-laki dan perempuan tidurnya udah harus dipisah. (Tahu kan kasus anak umur 11 tahun yang memperkosa 2 adik perempuan dan IBU KANDUNGnya karena selalu tidur 1 ruangan dengan mereka?)

80% kasus pelecehan terjadi di rumah sendiri/rumah keluarga dekat (rumah nenek pas ngumpul keluarga) dan sekolah. Nah, disitulah bibit awal pedofilia dan LGBT.

Semuanya saling berkaitan.
Sekarang tentang media, film. Terutama yang asalnya dari Amrika yang dicontohkan film Breaking Dawn sama Fifty Shades of Grey. Games-games cowok dan games cewek (The Sims4).

Video klip contohnya Nicky Minaj (yang ngajarin or*l sex) bahkan kata Bu Elly, kalau anak anda disuruh makan sosis malah muntah, berarti dia udah nonton video klipnya dan Miley Ciyrus (wrecking Ball).

Tontonan lainnya ada Glee (udah jelas lah ya misi LGBTnya), komik, spongebob (kami dikasih liat scene spongebob ciuman sama patrick), stiker LINE, K-Pop (diliatin foto 2 cowok K-Pop idol lagi ciuman bibir di panggung) dan situs (ada situs LGBT bahkan untuk anak-anak).

Bu Elly nangis di panggung, beliau curhat sama kami bahwa pemerintah seolah tutup kuping sama kejadian ini. Beliau sudah menawarkan reset dan mendatangi kementerian-kementerian terkait untuk sosialisasi porn awareness. Tapi ga pernah digubris.

UU pornografi pun ga ada penerapannya (kayak ga ada). Bahkan terakhir beliau diskusi dengan Ibu Jokowi tapi yang bikin kecewa justru bersamaan dengan seminar kami, Ibu negara malah kampanye kanker serviks (sudah booming karena si jupe kena).

Ga ngerti implementasinya sampe atau nggak ke masyarakat. Makanya ayo jadi penggerak di unit kerja kita masing-masing. Pemerintah itu seharusnya membentengi masuknya bencana ke Indonesia bukannya memfasilitasi.

Ekspresi harus bisa dipertanggungjawabkan.
Kalau dibiarin bebas, akhirnya orang jadi liar. Itulah kenapa harus ada aturan. Sebenernya yang pikirannya tertutup justru seniman Indonesia.

Pikirannya hanya terfokus pada gimana sih pemerintah!
Gimana sih umat Islam nih ga kompromis! Padahal harusnya mereka lebih DEWASA dalam berpikir. Ga pragmatis.

Orang Indonesia itu ga semuanya adult. Di sini juga ada anak-anak. Mereka belum ngerti mana yang harus diikuti, mana yang nggak. Di situlah peran kita melindungi mereka.

Kita semua punya tanggungjawab moral. Termasuk seniman.

Hal yang mengejutkan adalah isi sambutan founder salingsapa.com (penyelenggara). Beliau bilang, "Saya punya kenalan beberapa pemilik stasiun tv swasta. Salah satunya yang ada di kebon jeruk. Saya kaget, ternyata rata-rata dari mereka pada ga punya tv. Ketika saya tanya alasannya (sama pemilik stasiun di kobon jeruk), beliau bilang, "Saya sudah tahu bahwa produser itu mengejar rating. Sekarang, program tv itu pure A BUSINESS. Jadi mereka akan menayangkan apapun yang menarik minat masyarakat sehingga rating naik. Kalau rating naik, otomatis iklan berdatangan"

Mereka aja ga membiarkan anak mereka nonton tv. Dan kita masih membiarkan anak-anak kita nonton? Jadi intinya, kita semua punya peran untuk menanggulangi krisis moral di Indonesia. Karena dampaknya jangka panjang dan krusial. Ketika nanti kita jadi pejabat, jadi pengambil keputusan, pelajari baik-baik apa yang mau kita putuskan. Karena tanggungjawab kita besar. Sekarang, tugas kita adalah merintis perubahan positif di unit kerja masing-masing

Ajak diskusi orang-orang yang masih satu visi, orang-orang yang masih punya passion untuk memperbaiki carut-marut negara ini.

Kalimat terakhir paparannya Bu Elly Risman, "Ayo Bergerak Bersama. Lindungi Anak Indonesia dari Bahaya Pornografi".

Sorry, just sharing. Karena kita ga bisa kerja sendiri. Butuh KAMU... IYA KAMU... Butuh KAMU buat ikutan. Semoga kita bisa merintis perbaikan. Semoga negeri ini jadi lebih baik nantinya.

Mari sebarkan postingan ini jika Anda peduli dgn masa depan adik2 dan anak2 kita

#FightTheNewDrugs
#NAM

- Disini saya hanya share.

Rabu, 01 April 2015

Kisah Sahabat Nabi (Abu Darda)

Assalamu'alaikum warohmatullah wabarokatuh...

Sholawat dan salam semoga selalu tercurah pada Nabi dan Rasulullah Muhammad Salallaahu 'alaihi wasallam, keluarga, sahabat beliau, serta orang-orang yang senantiasa mengikuti beliau...

Kisah Sabahat Nabi ini, Abu Darda Rahimahullah, memiliki pelajaran bagi kita tentang arti zuhud, pengorbanan seorang hamba yg tadinya musyrik, kemudian menempuh jalan Robb-nya dengan sebenar-benar taqwa. Beliau menukar segala harta yang dimiliki untuk segera dikirimkan ke kampung halaman abadi, mencukupkan diri dengan bekal seperlunya didunia yang hanya sementara, serta menjaga ghiroh mencari ilmu agama.

Semoga kita senantiasa mampu mengambil hikmah, mengamalkan, serta menjadi hamba akhir zaman yang mendapat bagian tempat di akhirat dengan sebaik-baik amal.

----------------------------------

Uwaimir bin Malik Al Khazraji yang digelari Abu Darda' bangun dari tidurnya pagi-pagi sekali. Setelah itu dia pergi menuju berhala sembahannya di sebuah kamar yang paling istimewa di dalam rumahnya. Dia membungkuk memberi hormat kepada patung tersebut, kemudian diminyakinya dengan wangi-wangian termahal yang terdapat dalam tokonya yang besar. Sesudah itu patung tersebut diberi pakaian baru yang terbuat dari sutera megah, yang diperolehnya kemarin dari seorang pedagang yang datang dari Yaman dan sengaja mengunjunginya.

Setelah matahari agak tinggi, barulah Abu darda' masuk ke rumah dan bersiap hendak pergi ke tokonya, tiba-tiba jalan di Yastsrib menjadi ramai, penuh sesak dengan para pengikut Nabi Muhammad yang baru kembali dari peperangan Badar. Di muka sekali terlihat sekumpulan tawanan terdiri dari orang-orang Quraisy. Abu Darda' mendekati orang ramai dan bertemu dengan seorang pemuda suku Khazraj. Abu darda' menanyakan kepadanya dimana 'Abdullah bin Rawahah.

Pemuda Khazraj tersebut menjawab dengan hati-hati pertanyaan Abu Darda', karena dia tahu bagaimana hubungan Abu Darda' dengan 'Abdullah bin Rawahah. Mereka tadinya adalah dua orang teman akrab di masa jahily. Setelah Islam datang, 'Abdullah bin Rawahah segera masuk Islam, sedangkan Abu Darda' tetap dalam kemusyrikan.

Tetapi hal itu tidak menyebabkan hubungan persahabatan kedua orang tersebut menjadi putus. Karena 'Abdullah berjanji akan mengunjungi Abu Darda' sewaktu-waktu, untuk mengajak dan menariknya ke dalam Islam. Dia kasihan kepada Abu Darda', karena umurnya habis tersia-sia setiap hari dalam kemusyrikan.

Abu Darda' tiba di toko pada waktunya. Ia duduk bersila diatas kursi, sibuk jual beli dan mengomandoi para pelayan. Sementara itu 'Abdullah bin Rawahah datang ke rumah Abu Darda'. Sampai di sana ia melihat Ummu Darda' di halaman rumahnya. "Assalamu'alaiki. Ya amatallah (Semoga Anda bahagia, hai hamba Allah )." kata 'Abdullah memberi salam. "Wa'alaikassalam, ya akha Abi Darda' (Dan semoga Anda bahagia pula, hai sahabat Abu Darda')," jawab Ummu Darda.

"Kemana Abu Darda,'' tanya 'Abdullah.

"Dia ke toko, tetapi tidak lama lagi dia akan pulang," jawab Ummu Darda'

"Boleh saya masuk?" tanya 'Abdullah.

"Dengan segala senang hati! Silakan!" Jawab Ummu Darda'. Ummu Darda' melapangkan jalan bagi 'Abdullah, kemudian dia masuk ke dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan mengasuh anak.

'Abdullah bin Rawahah masuk ke kamar tempat Abu Darda' meletakkan patung sembahannya. Dikeluarkannya kapak yang sengaja dibawanya. Dihampirinya patung itu lalu dikapaknya hingga berkeping-keping. Katanya, "ketahuilah, setiap yang disembah selain Allah adalah batil!"

Setelah selesai menghancurkan patung tersebut, dia pergi meninggalkan rumah. Ummu Darda' masuk ke kamar tempat patung berada. Alangkah terperanjatnya dia, ketika dilihatnya patung telah hancur berkeping-keping dan berserakan di lantai. Ummu Darda' meratap menampar nampar kedua pipinya seraya berkata, "Engkau celakakan saya, hai Ibnu Rawahah."

Tidak berapa lama kemudian Abu Darda' pulang dari toko. Didapatinya istrinya duduk dekat pintu kamar patung sambil menangis. Rasa cemas dan takut kelihatan jelas di wajahnya.

"Mengapa engkau menangis?" tanya Abu Darda'.

"Teman Anda, 'Abdullah bin Rawahah tadi datang kemari ketika Anda sedang di toko. Dia telah menghancurkan patung sembahan Anda. Cobalah Anda saksikan sendiri," jawab Ummu Darda'.

Abu Darda' menengok ke kamar patung, dilihatnya patung itu sudah hancur berkeping-keping. Maka timbullah marahnya. Mulanya dia bermaksud hendak mencari 'Abdullah. Tetapi setelah kemarahannya berangsur padam, dia memikirkan kembali apa yang sudah terjadi. Kemudian katanya, "seandainya patung itu benar Tuhan, tentu dia sanggup membela dirinya sendiri."

Maka ditinggalkannya patung yang menyesatkan itu, lalu dia pergi mencari 'Abdullah bin Rawahah. Bersama sama dengan 'Abdullah, dia pergi menghadap Rasulullah SAW dan menyatakan masuk agama Allah di hadapan beliau.

Sejak detik pertama Abu Darda' beriman dengan Allah dan Rasul-Nya, dia beriman dengan sebenar-benar iman. Dia sangat menyesal agak terlambat masuk Islam. Sementara itu kawan-kawannya yang telah lebih dahulu masuk Islam, telah memperoleh pengertian yang dalam tentang agama Allah ini, hafal Al-Qur'an, senantiasa beribadat, dan taqwa yang selalu mereka tanamkan dalam diri mereka di sisi Allah. Karena itu dia bertekad hendak mengejar ketinggalannya dengan sungguh-sungguh, sekali pun dia harus berpayah-payah siang dan malam, hingga tersusul orang-orang yang berangkat lebih dahulu. Dia berpaling kepada ibadat dan memutuskan hubungan dengan dunia, mencurahkan perhatian kepada ilmu seperti orang kehausan mempelajari Al-Qur'an dengan tekun dan menghafalkan ayat-ayat, serta menggali pengertiannya sampai dalam. Tatkala dirasakannya perdagangannya mengganggu dan merintanginya untuk beribadat dan menghadiri majelis-majelis ilmu, maka ditinggalkannya perusahaannya tanpa ragu dan penyesalan.

Berkenaan dengan sikapnya yang tegas itu orang pernah bertanya kepadanya. Maka dijawabnya, "Sebelum masa Rasulullah saya menjadi seorang pedagang. Maka setelah saya masuk Islam, saya ingin menggabungkan berdagang untuk beribadat. Demi Allah, yang jiwa Abu Darda' dalam kuasa-Nya, saya akan menggaji penjaga pintu masjid supaya saya tidak luput shalat berjamaah, kemudian saya berjual beli dan berlaba setiap hari 300 dinar."

Kemudian dia menengok kepada si penanya dan berkata, "Saya tidak mengatakan bahwa Allah Ta'ala mengharamkan berniaga. Tetapi saya ingin menjadi pedagang, bila perdagangan dan jual beli tidak mengganggu saya untuk berdzikrullah (berdzikir)."

Abu Darda' tidak meninggalkan perdagangan sama sekali. Dia hanya sekedar meninggalkan dunia dengan segala perhiasan dan kemegahannya. Baginya sudah cukup sesuap nasi sekedar untuk menguatkan badan, dan sehelai pakaian kasar untuk menutupi tubuh.

Pada suatu malam yang sangat dingin, sekelompok jamaah bermalam di rumahnya. Abu Darda' menyuguhi mereka makanan hangat, tetapi tidak memberinya selimut. Ketika hendak tidur, mereka mempertanyakan selimut, Seorang diantaranya berkata, "Biarlah saya tanyakan kepada Abu Darda'."

Kata yang lain tidak, "Tidak perlu!"

Tetapi orang yang seorang itu menolak saran orang yang tidak setuju. Dia terus pergi ke kamar Abu Darda'. Sampai di muka pintu dilihatnya Abu Darda' berbaring, dan istrinya duduk di sampingnya. Mereka berdua hanya memakai pakaian tipis yang tidak mungkin melindungi mereka dari kedinginan. Orang itu bertanya kepada Abu Darda', "Saya lihat Anda sama dengan kami, tengah malam sedingin ini tanpa selimut. Kemana saja kekayaan dan harta benda Anda?"

Jawab Abu Darda', "kami mempunyai rumah di kampung sana. Harta benda kami langsung kami kirimkan kesana setiap kami peroleh. Seandainya masih ada yang tinggal di sini (berupa selimut), tentu sudah kami berikan kepada tuan-tuan. Di samping itu, jalan ke rumah kami yang baru itu sulit dan mendaki. Karena itu susah membawa barang yang berat-berat. Kami memang sengaja meringankan beban kami supaya mudah dibawa."

Kemudian Abu Darda bertanya kepada orang itu, "Pahamkah Anda?"

Jawab orang itu, "Ya, saya mengerti. Semoga Anda di karuniai Allah segala kebaikan."

Pada masa pemerintahan Khalifah 'Umar bin Khatab, 'Umar mengangkat Abu darda' menjadi pejabat tinggi di Syam. Tetapi Abu Darda' menolak pengangkatan tersebut. Khalifah Umar marah kepadanya. Lalu kata Abu Darda', "Bilamana Anda menghendaki saya pergi ke Syam, saya mau pergi untuk mengajarkan Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah kepada mereka, serta menegakkan shalat bersama sama dengan mereka."

Khalifah Umar menyukai rencana Abu Darda' tersebut. Lalu Abu Darda' berangkat ke Damsyik. Sampai di sana didapatinya masyarakat telah mabuk kemewahan dan tenggelam dalam kenikmatan dunia. Hal itu sangat menyedihkannya. Maka dipanggilnya orang banyak ke masjid, lalu dia berpidato di hadapan mereka. Katanya :

"Wahai penduduk Damsyiq! Kalian adalah saudaraku seagama; tetangga se-negeri; dan pembela dalam melawan musuh bersama.

Wahai penduduk Damsyiq! Saya heran, apakah gerangan sebabnya kalian tidak menyenangi saya, dan tidak menerima nasehat saya? Padahal saya tidak mengharapkan balas jasa dari kalian. Nasehatku berguna untuk kalian, sedangkan belanjaku bukan dari kalian.

Saya tidak suka melihat ulama-ulama pergi meninggalkan kalian, sementara orang-orang bodoh tetap saja bodoh.

Saya hanya mengharapkan kalian supaya melaksanakan segala perintah Allah Ta'ala, dan menghentikan segala larangan-Nya.

Saya tidak suka melihat kalian mengumpulkan harta kekayaan sebanyak-banyaknya, tetapi tidak kalian pergunakan untuk kebaikan. Kalian membangun gedung-gedung yang mewah, tetapi tidak kalian tempati atau kalian mencita-citakan sesuatu yang tak mungkin tercapai oleh kalian.

Bangsa-bangsa sebelum kamu pernah mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya dan bercita-cita setinggi-tingginya. Tetapi hanya sebentar, harta yang mereka tumpuk habis terkikis, cita-cita mereka hancur berantakan, dan bangunan-bangunan mewah yang mereka bangun rubuh menjadi kuburan.

Hai penduduk Damsyiq! Itulah bangsa 'Ad (kaum Nabi Hud as) yang telah memenuhi negeri (antara Aden dan Oman) dengan harta kekayaan dan anak-anak.

Siapakah di antara kalian yang berani sekarang membeli daripadaku peninggalan kaum 'Ad itu dengan harga dua dirham?"

Mendengar pidato Abu Darda' tersebut orang banyak menangis, sehingga isak tangis mereka terdengar dari luar masjid.

Sejak hari itu Abu Darda' senantiasa mengunjungi majelis-majelis masyarakat Damsyiq dan pergi ke pasar-pasar. Jika ada yang bertanya kepadanya selalu ia jawab. Jika dia bertemu dengan seorang bodoh, diajarinya. Dan jika dia melihat orang terlalai, diingatkannya. Direbutnya setiap kesempatan yang baik, sesuai dengan situasi dan kondisi, serta kemampuan yang ada padanya.

Pada suatu ketika dia melihat sekelompok orang mengeroyok seorang lelaki. Laki-laki itu babak belur dipukuli dan dicaci maki mereka. Abu Darda' datang menghampiri, lalu bertanya, "Apa yang terjadi? Mengapa begini?"

Jawab mereka, "Orang itu jatuh ke dalam dosa besar."

Kata Abu Darda', "Karena itu janganlah kalian caci maki dia, dan jangan pula kalian pukuli. Tetapi berilah dia pengajaran dan sadarkan dia. Bersyukurlah kalian kepada Allah yang senantiasa memaafkan kalian dari segala dosa."

Tanya mereka, "Apakah Anda tidak membencinya?"

Jawab Abu Darda', "Sesungguhnya saya membenci perbuatannya. Apabila dia telah menghentikan perbuatannya yang berdosa itu, maka dia adalah saudara saya."

Orang itu menangis dan tobat dari kesalahannya.

Kali yang lain seorang pemuda mendatangi Abu Darda' dan berkata kepadanya, "Wahai sahabat Rasulullah! Ajarilah saya!"

Jawab Abu Darda', "Hai anakku! Ingatlah kepada Allah di waktu kamu bahagia. Maka Allah akan mengingatmu di waktu kamu sengsara.
Hai Anakku! Jadilah kamu pengajar, orang yang mau belajar dan orang yang mau mendengar. Dan jangan menjadi orang yang bodoh). Karena yang bodoh itu, pasti celaka."

Abu Darda' pernah pula melihat sekelompok pemuda duduk-duduk di pinggir jalan. Mereka ngobrol sambil melihat orang-orang yang lalu lalang. Abu Darda' menghampiri mereka dan berkata kepadanya, "Hai anak-anakku! Tempat yang paling baik bagi orang muslim adalah rumahnya. Di sana dia dapat memelihara diri dan pandangannya. Jauhilah duduk-duduk di pinggir jalan dan dipasar-pasar, karena hal itu menghabiskan waktu dengan percuma."

Ketika Abu Darda' tinggal di Damsyiq, yang menjadi gubernur waktu itu ialah Mu'awiyah bin Abu Sufyan. Mu'awiyah melamar anak gadis Abu Darda' (yaitu Darda') untuk puteranya Yazid. Abu Darda' menolak lamaran Mu'awiyah tersebut. Dia tidak mau mengawinkan anak gadisnya, Darda', dengan Yazid (putera Gubernur). Bahkan Darda' dikawinkannya dengan pemuda muslim, anak kebanyakan. Abu Darda' menyukai agama dan akhlak pemuda itu. Orang banyak heran dengan sikap Abu Darda' dan berbisik-bisik sesama mereka, "Anak gadis Abu Darda' dilamar oleh Yazid bin Mu'awiyah, tetap lamarannya di tolak. Kemudian Abu Darda' mengawinkan putrinya dengan seorang pemuda muslim anak orang kebanyakan."

Seorang penanya bertanya kepada Abu Darda', mengapa dia bertindak seperti itu. Jawab Abu Darda', "Saya bebas berbuat sesuatu untuk kemaslahatan Darda'."

Orang itu kembali bertanya,"Mengapa?"

Jawab Abu darda', "Bagaimana pendapat Anda, apabila nanti Darda' telah berada di tengah-tengah inang pengasuh yang senantiasa siap sedia melayaninya, sedangkan dia berada dalam istana yang gemerlapan menyilaukan mata, akan kemana jadinya agama Darda' ketika itu?"

Pada suatu waktu ketika Abu Darda' berada di negeri Syam, Amirul Mukminin 'Umar bin Khattab datang memeriksa. Khalifah mengunjungi sahabat itu di rumahnya malam hari. Ketika Khalifah membuka pintu rumah Abu Darda', ternyata pintu itu tidak dikunci dan rumah gelap tanpa lampu. Ketika Abu Darda' mendengar suara Khalifah, Abu Darda' berdiri mengucapkan selamat datang dan menyilahkan Khalifah Umar duduk. Keduanya segera terlibat dalam pembicaraan-pembicaraan penting, padahal kegelapan menyelubungi keduanya, sehingga masing-masing tidak melihat kawannya berbicara.

Khalifah 'Umar meraba-raba bantal alas duduk Abu Darda', ternyata sebuah pelana kuda. Dirabanya pula kasur tempat tidur Abu Darda', ternyata berisi pasir belaka. Dirabanya pula selimut, kiranya pakaian-pakaian tipis yang tidak mencukupi untuk musim dingin.

Kata khalifah 'Umar, "Semoga Alah melimpahkan rahmat-Nya kepada Anda. Maukah Anda saya bantu? Maukah Anda saya kirimi sesuatu untuk melapangkan kehidupan Anda?"

Jawab Abu Darda'. "Ingatkah Anda hai 'Umar, sebuah hadist yang disampaikan Rasulullah kepada kita?"

Tanya Umar, "Hadist apa gerangan?"

Jawab Abu Darda', "Bukankah Rasulullah telah bersabda: 'Hendaklah puncak salah seorang kamu tentang dunia, seperti perbekalan seorang pengendara (yaitu secukupnya dan seadanya).'"

Jawab Khalifah Umar, "Ya, saya ingat!"

Kata Abu Darda', "Nah, apa yang telah kita perbuat sepeninggal beliau, hai Umar?"

Khalifah Umar menangis, Abu Darda'pun menangis pula. Akhirnya mereka berdua bertangis-tangisan sampai subuh.

Abu Darda' menjadi guru selama tinggal di Damsyiq. Dia memberi pengajaran kepada penduduk, memperingatkan mereka, mengajarkan Kitab (Al-Qur'an) dan Hikmah kepada mereka sampai dia meninggal.

Tatkala Abu Darda' hampir meninggal, para sahabatnya datang berkunjung. Mereka bertanya, "Sakit apa yang Anda rasakan?"

Jawab Abu Darda', "Dosa-dosaku!"

Mereka bertanya, "Apa yang Anda inginkan?"

Abu Darda' menjawab, "Ampunan Tuhanku."

Kemudian dia berkata kepada orang-orang yang hadir disekitarnya, "Ulangkanlah kepadaku kalimah 'Laa ilaaha illallah, Muhammad Rasulullah.'"

Abu Darda' senantiasa membaca kalimah tersebut berulang-ulang hingga nafasnya yang terakhir.

Setelah Abu Darda' pergi menemui Tuhannya, Abu Muhammad berkata pada Auf bin Malik, "hai, Ibnu Malik! Inilah karunia Allah kepada kita berkat Al-Qur'an. Seandainya engkau mengawasi jalan ini, engkau akan melihat suatu pemandangan yang belum pernah engkau saksikan, dan mendengar sesuatu yang belum pernah engkau dengar, dan tidak pernah terlintas dalam pikiranmu."

Tanya 'Auf bin Malik, "Untuk siapa semuanya, hai Abu Muhammad?"

Jawab Abu Muhammad, "Disediakan Allah Ta'ala untuk Abu Darda', karena Dia telah menolak kemewahan dunia dengan mudah dan lapang dada." [fosmil.org]

http://mutiarasirah.blogspot.com/2012/02/abu-darda.html?m=1

Senin, 30 Maret 2015

Kisah Pemuda Yang Bertaubat di Zaman Rasulullah Salallaahu'alaihi wasalam

Suatu hari Umar ra datang menemui Rasulullah dengan menangis. Rasulullah pun bertanya kepadanya, Apa gerangan yang menyebabkan engkau menangis, wahai Umar?"

Kata Umar, Sungguh hati saya mrasa tersentuh oleh ratapan sorang pemuda yg ada dipintu rumah tuan! Rasulullah pun memerintahkan Umar untuk membawa pemuda itu. Ketika pemuda itu telah sampai dihadapan Rasulullah, beliaupun bertanya kepadanya,

"Wahai Pemuda, apa gerangan yang menyebabkan engkau menangis dan meratap?"
Pemuda itu menjawab , "Wahai Rasulullah, yang membuat saya menangis ialah banyaknya dosa yang terlanjur saya lakukan ! Saya takut bila Allah murka kepada saya!"

Beliau kembali bertanya,
"Apakah engkau mempersekutukan Allah dengan sesuatu ?"
"Tidak!" jawab pemuda itu.
"Apakah engkau telah membunuh orang dengan tanpa hak?" tanya Rasulullah . "tidak !" jawab pemuda itu.

"Allah akan mengampuni semua dosamu, meskipun dosamu itu sepenuh tujuh langit dan bumi!" jelas Rasulullah sembari menenangkan pemuda itu.

Mendengar penjelasan Rasulullah , pemuda itupun berkata,
"Wahai Rasulullah, dosa saya lebih besar dari tujuh langit dan gunung yang tegak berdiri!"
Beliau pun menimpali ,
“Apakah dosamu lebih besar dari kursi ( kekuasaan ) Allah?”.
“Dosa saya lebih besar lagi !: ratap pemuda itu.

“Apakah dosamu lebih besar dari Arsy?” Belize kembali bertanya. “Dosa saya lebih besar dari itu !” jawab pemuda itu.
“Apakah dosamu lebih besar , ataukah Allah?” Tanya Rasulullah.
“Allah tentu yang lebih besar dan lebih Agung , tapi saya malu kepadamu, Wahai Rasulullah, jawab pemuda itu.
Beliaupun bersabda, :Janganlah engkau malu, beritahukan dosamu kepada saya!” pinta Rasulullah.
Oleh karena beliau yang meminta , maka pemuda itupun tak kuasa untuk menolaknya. Akhirnya iapun menceritakan dosa yang telah dikerjakannya, seraya berkata : “Wahai Rasulullah , sungguh saya adalah seorang pemuda pembongkar mayat dalam kubur sejak 7 tahun yang lalu. Suatu ketika ada seorang gadis putri seorang sahabat golongan Anshar yang meninggal dunia, maka saya pun membongkar kuburnya dan mengeluarkannya dari kafannya, karena tergoda bisikan syetan , saya pun menggaulinya. Tiba-tiba gadis itu berbicara,
“Tidakkah engkau malu kepada Kitab Allah dan pada hari dia meletakkan ‘kursinya” untuk memberikan hukum serta mengambil hak orang yang dianiaya dari orang yang telah menganiayanya? Mengapa engkau jadikan aku telanjang dihari penghimpunan kelak, dari orang- orang yang telah meninggal dunia? Mengapa engkau jadikan aku berdiri dalam keadaan junub diharibaan Allah? ”
Mendengar cerita itu Rasulullah pun meloncat karena gusarnya . Dengan suara keras , beliau berkata,
“Wahai pemuda Fasiq, keluar dan jauh-jauhlah kamu dari saya, tidak ada balasan yang pantas untukmu kecuali neraka!”
Pemuda itupun keluar dengan menangis sejadi-jadinya.
Ia menjauh dari khalayak ramai dan menuju kepadang pasir yang luas, dengan tidak mau makan dan minum sesuatupun, serta tidak bisa tidur sampai tujuh hari lamanya. Tubuhnyapun menjadi lemah dan lunglai, hingga iapun jatuh tersungkur dipermukaan tanah berpasir yang maha luas itu.
Seraya meletakkan wajahnya dipasir sambil bersujud, ia berdoa dan meratap.
“Wahai Tuhan, aku adalah hamba-Mu yang berdosa dan Bersalah. Aku telah datang ke pintu Rasul-Mu agar dia bisa menolongku di sisi-Mu. Namun ketika ia mendengar dosaku yang sangat besar, ia mengusir dan mengeluarkan aku dari pintunya. Kini aku datang kepintu-Mu, agar engkau berkenan menjadi penolongku di sisi Kekasih-Mu. Sesungguhnya engkau maha pengasih kepada hamba-hamba-MU . Tak ada lagi harapanku kecuali kepada-Mu . Kalau tidak mungkin, maka lebih baik kirimkan saja api neraka dari sisi-Mu, dan bakarlah aku dengan api itu didunia-Mu ini, sebelum aku engkau bakar diakhirat-Mu nanti!”

Sepeninggal pemuda itu , Rasulullah didatangi oleh malaikat jibril , seraya berkata,
“Wahai Rasulullah, Allah telah berkirim salam kepada-Mu!”
Beliaupun menjawab salam Allah. Setelah itu malaikat Jibril kembali berkata,
“Allah bertanya kepadamu , apakah kamu yang telah menciptakan para makhluk? ”
Beliau menjawab , “Tentu saja tidak, Allah yang telah menciptakan semuanya!”
“Allah juga bertanya kepadamu, Apakah kamu yang telah memberi rezeki kepada makhluk-makhluk Allah?” malaikat jibril kembali bertanya.
“Tentu saja Allahlah yang telah memberi rezeki kepada mereka , bahkan juga kepadaku!” jawab beliau.
“Apakah kamu yang berhak menerima taubat seseorang?” kembali malaikat jibril bertanya.
“Allahlah yang berhak menerima dan mengampuni dosa hamba-hamba-Nya!’ jawab beliau.

Mendengar jawaban-jawaban Rasulullah , malaikat jibrilpun berkata ,
“Allah telah berfirman kepadamu ,
“Telah aku kirimkan seorang hamba-Ku yang menerangkan satu dosanya kepadamu, tapi mengapa engkau berpaling daripadanya dan sangat marah kepadanya? Lalu bagaimana keadaan orang-orang mukmin besok, jika mereka itu datang padamu dengan dosa yang lebih besar seperti gunung? Kamu adalah Utusan-Ku yang aku utus sebagai rahmat untuk seluruh alam, maka jadilah engkau orang yang berkasih sayang kepada orang-orang beriman dan menjadi penolong bagi orang-orang yang berdosa . Maafkanlah kesalahan hamba-Ku, karena aku telah menerima taubatnya dan mengampuni dosanya”.

Mendengar teguran Allah , Rasulullahpun mengutus beberapa orang sahabatnya untuk menemui pemuda yang pernah diusir Rasulullah itu. Akhirnya mereka menemukannya dan merekapun memberikan kabar gembira tentang ampunan Allah kepadanya. Lalu mereka membawa pemuda itu kepada Rasulullah , dan kebetulan saat mereka sampai beliau sedang mengerjakan Shalat. Maka merekapun segera bermakmum dibelakangnya.

Setelah selesai membaca surat Alfatihah beliaupun membaca surat At- takasur baru saja beliau sampai ayat “ Hatta zurtumul maqabir (sampai kamu masuk kedalam kubur),” maka pemuda itupun menjerit keras dan jatuh.

Ketika orang-orang telah selesai Shalat, merekapun mendapati ternyata pemuda itu telah meninggal dunia. Allah berkenan menerima taubatnya dan memasukkannya kedalam kelompok hamba Allah Yang Shaleh Wallahu a'lam bisshawab

(Kisah ini disadur dari buku karya Usman bin Hasan bin Ahmad Asy Syakir Al-kahaubawiyyi , yang berjudul “ Durratun Nasihin”Bab taubah, Dalam buku karya Syaiful Hadi el sutha “ Kado terindah untuk orang berdosa)

diambil dari http://azzahranabilaanwar.blogspot.com/2013/05/kisah-pemerkosa-mayat-di-zaman.html?m=1

Selasa, 30 Desember 2014

Kisah Kesabaran Tanpa Batas

Diterjemahkan oleh Abu Hudzaifah Al Atsary dari kitab: ‘Aasyiqun fi Ghurfatil ‘amaliyyaat, oleh Syaikh Muh. Al Arify.

Abu Ibrahim bercerita:

Suatu ketika, aku jalan-jalan di padang pasir dan tersesat tidak bisa pulang. Di sana kutemukan sebuah kemah lawas… kuperhatikan kemah tersebut, dan ternyata di dalamnya ada seorang tua yang duduk di atas tanah dengan sangat tenang…

Ternyata orang ini kedua tangannya buntung… matanya buta… dan sebatang kara tanpa sanak saudara. Kulihat bibirnya komat-kamit mengucapkan beberapa kalimat..

Aku mendekat untuk mendengar ucapannya, dan ternyata ia mengulang-ulang kalimat berikut:

الحَمْدُ لله الَّذِي فَضَّلَنِي عَلَى كَثِيْرٍمِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيْلاً ..الحَمْدُ لله الَّذِي فَضَّلَنِي عَلَى كَثِيْرٍمِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيْلاً .. ..
Segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas banyak manusia… Segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas banyak manusia…

Aku heran mendengar ucapannya, lalu kuperhatikan keadaannya lebih jauh… ternyata sebagian besar panca inderanya tak berfungsi… kedua tangannya buntung… matanya buta… dan ia tidak memiliki apa-apa bagi dirinya…

Kuperhatikan kondisinya sambil mencari adakah ia memiliki anak yang mengurusinya? atau isteri yang menemaninya? ternyata tak ada seorang pun…

Aku beranjak mendekatinya, dan ia merasakan kehadiranku… ia lalu bertanya: “Siapa? siapa?”

“Assalaamu’alaikum… aku seorang yang tersesat dan mendapatkan kemah ini” jawabku, “Tapi kamu sendiri siapa?” tanyaku.

“Mengapa kau tinggal seorang diri di tempat ini? Di mana isterimu, anakmu, dan kerabatmu? lanjutku.

“Aku seorang yang sakit… semua orang meninggalkanku, dan kebanyakan keluargaku telah meninggal…” jawabnya.

“Namun kudengar kau mengulang-ulang perkataan: “Segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas banyak manusia…!! Demi Allah, apa kelebihan yang diberikan-Nya kepadamu, sedangkan engkau buta, faqir, buntung kedua tangannya, dan sebatang kara…?!?” ucapku.

“Aku akan menceritakannya kepadamu… tapi aku punya satu permintaan kepadamu, maukah kamu mengabulkannya?” tanyanya.

“Jawab dulu pertanyaanku, baru aku akan mengabulkan permintaanmu” kataku.

“Engkau telah melihat sendiri betapa banyak cobaan Allah atasku, akan tetapi segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas banyak manusia… bukankah Allah memberiku akal sehat, yang dengannya aku bisa memahami dan berfikir…?

“Betul” jawabku. lalu katanya: “Berapa banyak orang yang gila?”

“Banyak juga” jawabku. “Maka segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas banyak manusia” jawabnya.

“Bukankah Allah memberiku pendengaran, yang dengannya aku bisa mendengar adzan, memahami ucapan, dan mengetahui apa yang terjadi di sekelilingku?” tanyanya.

“Iya benar”, jawabku. “Maka segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas orang banyak tsb” jawabnya.

“Betapa banyak orang yang tuli tak mendengar…?” katanya.

“Banyak juga…” jawabku. “Maka segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas orang banyak tsb”, katanya.

“Bukankah Allah memberiku lisan yang dengannya aku bisa berdzikir dan menjelaskan keinginanku?” tanyanya.

“Iya benar” jawabku. “Lantas berapa banyak orang yang bisu tidak bisa bicara?” tanyanya.

“Wah, banyak itu” jawabku. “Maka segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas orang banyak tsb” jawabnya.

“Bukankah Allah telah menjadikanku seorang muslim yang menyembah-Nya… mengharap pahala dari-Nya… dan bersabar atas musibahku?” tanyanya.

“Iya benar” jawabku. lalu katanya: “Padahal berapa banyak orang yang menyembah berhala, salib, dan sebagainya dan mereka juga sakit? Mereka merugi di dunia dan akhirat…!!”

“Banyak sekali”, jawabku. “Maka segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas orang banyak tsb” katanya.

Pak tua terus menyebut kenikmatan Allah atas dirinya satu-persatu… dan aku semakin takjub dengan  kekuatan imannya. Ia begitu mantap keyakinannya dan begitu rela terhadap pemberian Allah…

Betapa banyak pesakitan selain beliau, yang musibahnya tidak sampai seperempat dari musibah beliau… mereka ada yang lumpuh, ada yang kehilangan penglihatan dan pendengaran, ada juga yang kehilangan organ tubuhnya… tapi bila dibandingkan dengan orang ini, maka mereka tergolong ‘sehat’. Pun demikian, mereka meronta-ronta, mengeluh, dan menangis sejadi-jadinya… mereka amat tidak sabar dan tipis keimanannya terhadap balasan Allah atas musibah yang menimpa mereka, padahal pahala tersebut demikian besar…

Aku pun menyelami fikiranku makin jauh… hingga akhirnya khayalanku terputus saat pak tua mengatakan:

“Hmmm, bolehkah kusebutkan permintaanku sekarang… maukah kamu mengabulkannya?”

“Iya.. apa permintaanmu?” kataku.

Maka ia menundukkan kepalanya sejenak seraya menahan tangis.. ia berkata: “Tidak ada lagi yang tersisa dari keluargaku melainkan seorang bocah berumur 14 tahun… dia lah yang memberiku makan dan minum, serta mewudhukan aku dan mengurusi segala keperluanku… sejak tadi malam ia keluar mencari makanan untukku dan belum kembali hingga kini. Aku tak tahu apakah ia masih hidup dan diharapkan kepulangannya, ataukah telah tiada dan kulupakan saja… dan kamu tahu sendiri keadaanku yang tua renta dan buta, yang tidak bisa mencarinya…”

Maka kutanya ciri-ciri anak tersebut dan ia menyebutkannya, maka aku berjanji akan mencarikan bocah tersebut untuknya…

Aku pun meninggalkannya dan tak tahu bagaimana mencari bocah tersebut… aku tak tahu harus memulai dari arah mana…

Namun tatkala aku berjalan dan bertanya-tanya kepada orang sekitar tentang si bocah, nampaklah olehku dari kejauhan sebuah bukit kecil yang tak jauh letaknya dari kemah si pak tua.

Di atas bukit tersebut ada sekawanan burung gagak yang mengerumuni sesuatu… maka segeralah terbetik di benakku bahwa burung tersebut tidak lah berkerumun kecuali pada bangkai, atau sisa makanan.

Aku pun mendaki bukit tersebut dan mendatangi kawanan gagak tadi hingga mereka berhamburan terbang.

Tatkala kudatangi lokasi tersebut, ternyata si bocah telah tewas dengan badan terpotong-potong… rupanya seekor serigala telah menerkamnya dan memakan sebagian dari tubuhnya, lalu meninggalkan sisanya untuk burung-burung…

Aku lebih sedih memikirkan nasib pak tua dari pada nasib si bocah…

Aku pun turun dari bukit… dan melangkahkan kakiku dengan berat menahan kesedihan yang mendalam…

Haruskah kutinggalkan pak Tua menghadapi nasibnya sendirian… ataukah kudatangi dia dan kukabarkan nasib anaknya kepadanya?

Aku berjalan menujuk kemah pak Tua… aku bingung harus mengatakan apa dan mulai dari mana?

Lalu terlintaslah di benakku akan kisah Nabi Ayyu ‘alaihissalaam… maka kutemui pak Tua itu dan ia masih dalam kondisi yang memprihatinkan seperti saat kutinggalkan. Kuucapkan salam kepadanya, dan pak Tua yang malang ini demikian rindu ingin melihat anaknya… ia mendahuluiku dengan bertanya: “Di mana si bocah?”

Namun kataku: “Jawablah terlebih dahulu… siapakah yang lebih dicintai Allah: engkau atau Ayyub ‘alaihissalaam?”

“Tentu Ayyub ‘alaihissalaam lebih dicintai Allah” jawabnya.

“Lantas siapakah di antara kalian yang lebih berat ujiannya?” tanyaku kembali.

“Tentu Ayyub…” jawabnya.

“Kalau begitu, berharaplah pahala dari Allah karena aku mendapati anakmu telah tewas di lereng gunung… ia diterkam oleh serigala dan dikoyak-koyak tubuhnya…” jawabku.

Maka pak Tua pun tersedak-sedak seraya berkata: “Laa ilaaha illallaaah…” dan aku berusaha meringankan musibahnya dan menyabarkannya… namun sedakannya semakin keras hingga aku mulai menalqinkan kalimat syahadat kepadanya… hingga akhirnya ia meninggal dunia.

Ia wafat di hadapanku, lalu kututupi jasadnya dengan selimut yang ada di bawahnya… lalu aku keluar untuk mencari orang yang membantuku mengurus jenazahnya…

Maka kudapati ada tiga orang yang mengendarai unta mereka… nampaknya mereka adalah para musafir, maka kupanggil mereka dan mereka datang menghampiriku…

Kukatakan: “Maukah kalian menerima pahala yang Allah giring kepada kalian? Di sini ada seorang muslim yang wafat dan dia tidak punya siapa-siapa yang mengurusinya… maukah kalian menolongku memandikan, mengafani dan menguburkannya?”

“Iya..” jawab mereka.

Mereka pun masuk ke dalam kemah menghampiri mayat pak Tua untuk memindahkannya… namun ketika mereka menyingkap wajahnya, mereka saling berteriak: “Abu Qilabah… Abu Qilabah…!!”

Ternyata Abu Qilabah adalah salah seorang ulama mereka, akan tetapi waktu silih berganti dan ia dirundung berbagai musibah hingga menyendiri dari masyarakat dalam sebuah kemah lusuh…

Kami pun menunaikan kewajiban kami atasnya dan menguburkannya, kemudian aku kembali bersama mereka ke Madinah…

Malamnya aku bermimpi melihat Abu Qilabah dengan penampilan indah… ia mengenakan gamis putih dengan badan yang sempurna… ia berjalan-jalan di tanah yang hijau… maka aku bertanya kepadanya:

“Hai Abu Qilabah… apa yang menjadikanmu seperti yang kulihat ini?”

Maka jawabnya: “Allah telah memasukkanku ke dalam Jannah, dan dikatakan kepadaku di dalamnya:

( سلام عليكم بما صبرتم فنعم عقبى الدار )
Salam sejahtera atasmu sebagai balasan atas kesabaranmu… maka (inilah Surga) sebaik-baik tempat kembali

Kisah ini diriwayatkan oleh Al Imam Ibnu Hibban dalam kitabnya: “Ats Tsiqaat” dengan penyesuaian.

diambil dari :
http://www.konsultasisyariah.com/kisah-kesabaran-tanpa-batas/

Selasa, 02 Desember 2014

Jatuh Cinta

Jatuh Cinta

Rabu, 03 Desember 2014 , 10:04:15
Oleh : Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc

kata orang..

jatuh cinta itu lumrah..

sudah fitrah manusia..

tapi menyibukkan hati dari berdzikir..

selalu ingat si dia..

dalam banyak aktivitas..

padahal kata ulama..

mengingat manusia itu penyakit..

sedangkan mengingat Allah itu penawar kegundahan hati..

kata orang..

jatuh cinta itu indah..

tapi membuat mabuk kepayang..

sebetulnya jatuh cinta itu siksaan batin..

tersiksa oleh kekhawatiran..

tersiksa oleh kerinduan..

tersiksa oleh khayalan dan angan-angan..

padahal belum tentu jodoh..

apalagi lelaki yang sudah beristri..

ketika jatuh cinta kepada wanita lain..

ia dijadikan lupa kepada yang halal..

dan sibuk dengan yang haram..

bertepuk sebelah tangan..

jatuh cinta tak berguna..

menderita di dunia sebelum di akhirat..

bagai mengejar fatamorgana..

padahal ada cinta yang tak kan pernah bertepuk sebelah tangan..

ia adalah cinta kepada Allah..

cinta yang memberi keindahan hidup..

cinta yang tak ada lagi di atasnya cinta..

rindu kepada Ar Rahman..

merasakan kenikmatan batin ketika asyik berduaan denganNya..

untuk itulah kita hidup..

untuk itu pula kita meninggal..

ya Rabb..

Ditulis oleh Ustadz Badru Salam, Lc

Dipost tgl 10 Shafar 1436 / 3 Nov 2014

diambil dari 

http://m.salamdakwah.com/baca-artikel/jatuh--cinta.html#.VH7C9fH-LqA

Senin, 20 Oktober 2014

Teman....


             ***** TEMAN *****

Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى

Teman..
lihatlah rumput ilalang yang bergoyang..
seakan membisikan pengalaman..
seraya berkata..
hidupku tak lepas dari terpaan angin..
terkadang aku merunduk..
terkadang pula meliuk liuk..
namun itu tak membuatku tersungkur..

Teman..
itulah kehidupan..
tak lepas dari aral yang melintang..
ujian dan cobaan silih berganti..
menyaring keimanan..
demikian Robb kita berfirman:
alif laam miim..
apakah manusia mengira akan dibiarkan berucap kami beriman sementara ia tidak diuji.. (al ankabut: 1)

Teman..
tidakkah kita ingin setegar batu karang..
yang selalu diterjang ombak samudra..
namun ia tegar tak bergeming..
seakan tersenyum anggun menuai kesabaran..

Teman..
sabar di dunia amat indah..
walau pahit dan getir terasa..
tapi ia sementara dan tak lama..
sedangkan sabar di neraka tak lagi berguna..
dalam masa yang amat panjang..
satu harinya sama dengan lima puluh ribu tahun di dunia..
manakah kesabaran yang engkau pilih..

Teman..
sabarlah di atas jalan Rabbmu..
sabarlah tuk menaati Nabimu..
sampai kita berjumpa denganNya..
Nabi bersabda..
bersabarlah.. sampai berjumpa denganku di telaga haudl..

Jumat, 17 Oktober 2014

Membawa Ember Yang Bocor

Saudara/i, berikut revisi notulen kajian Ustadz Syafiq Basalamah. Dicatatkan oleh seorang hamba, semoga Allah melimpahkan rahmat pada beliau & keluarga, dan mencatatkan ini sebagai amalan jariyah bagi beliau yg tidak akan terputus. Dan semoga Allah merahmati kita semua...

Allaahumma aammiin

----------------------------------

Ust Dr Syafiq Basalamah Lc, MA

18 oktober 2014

Masjid Habibur Rahman - Bandung


Riya menyebabkan kita hasad tapi ikhlas tidak.

Hati2 akhi, selama ini kita beramal, tapi mgkn kita tdk tahu bahwa kita tdk pernah melandasinya ndengan keikhlasan.

Seperti membawa ember bocor.


Tanda tanda keikhlasan


1. Suka menyembunyikan amalan.

Orang lain tdk perlu tahu apa yang kita lakukan.

Ada seseorang yang selama 20 th puasa sunnah tidak diketahui keluarganya. Ternyata  bekal makan siang dari istrinya selalu disedekahkan pada orang lain saat di jalan. Jadi lakukan amalan hanya untuk Allah, tidak perlu semua orang tahu kebaikan yang kita lakukan sebagaimana juga kita tidak ingin keburukan kita diketahui orang lain.


2. Selalu menuduh diri kita dengan kekurangan.

Tidak memuji diri sendiri. Jangan merasa diri kita sudah baik dari orang lain.

Kalau bertemu dengan orang yang lebih tua, maka katakanlah orang tsb lebih baik, krn ia lebih dulu sujud pada Allah, lebih banyak beribadah dariku. Ketika bertemu orang lebih muda, maka katakanlah ia lebih baik. Karena ia berbuat dosa lebih sedikit dariku.

Jadi tuduhlah diri, apakah amalan kita diterima atau tidak?


3. Berlapang dengan dunia.

Afwan ana krang menyimak yang ini, tp intinya qanaah thd apa yang Allah berikan kepada kita dan tdk mengubah kualitas amalan kita.


4. Tidak menanti balasan dari orang lain.

Beramal hanya semata mata karena Allah, tidak memerdulikan apakah ia akan mendapat balasan (kebaikan) dari orang lain atau tidak.

Al insan ayat 8-9.

"Dan orang2 itu memberi makan pada orang lain, padahal ia cinta dengan hartanya. Hanya mengharap keridhoan Allah


5. Tidak nengharap pujian dan tidak tertipu dengan sanjungan.

Tanda keikhlasan

- tidak mengharap pujian

- tidak pernah merasa amalan itu ada

- mengharap pahala dari Allah di akhirat


6. MengAkui keunggulan/ kebaikan orang lain dan tidak pelit memberikan pujian utk krbaikan orang lain.

Kita tidak boleh melupakan orang yang telah berbuat baik kepada kita. Krn jika kita melakukannya, hati2 karena boleh jadi kita selama ini tidak ikhlas dalam mengerjakan amal kebaikan.


Rasul bersabda jika ada orang telah berbuat baik pada kalian, balaslah kebaikannya. Jk kalian tdk mempunyai apapun, maka doakanlah..

Hadits lainnya:

Jika ada org lain telah berbuat baik kpd kita, maka dengan menyebut bahwa si fulan telah berbuat baik pada kita, telah termasuk syukur nikmat. Dan menyembunyikannya termasuk kufur nikmat.


Kisah rasul bertemu dengan saudari sepersusuannya, syaimah, saat perang.

Suatu ketika, syaimah jadi tawanan perang, dan rasul tdk melupakan kebaikannya saat kecil dengan menghamparkan selendang rasul utk jadi tempat duduk saudarinya tsb


Ulama salaf juga saling memberikan pujian pada ulama lainnya.


7. Tidak mempermasalahkan dengan posisinya/ jabatannya/ kedudukannya

Misal seseorang yang awalnya punya jabatan, lalu diturunkan jabatannya.

Orang yang ikhlas, tdk mempermasalahkannya kedudukannya, urusannya hanyalah beramal untuk Allah.


8. Luar dalam amalannya sama.

Orang yg paling tahu amalan kita adalah istri kita dan pembantu kita.

Jangan ketika di luar beramal baik namun ketika di dalam (di rumah/ keluarga) semua keburukan kita lakukan.


9. Menyempurnakan tugas dan kewajiban.

Tidak menunggu ia diawasi/ tidak peduli ia dilihat orang atau tidak.


10. Siap dikritik.

Umar ra berkata semoga Allah merahmati orang2 yang menghadiahkan kekurangan kekuranganku.

Orang yg tahu kekurangan kita adalah orang2 yang tdk suka dengan kita...


11. Keridhoan dan amarahnya bukan buat dirinya, tapi ia marah karena Allah. Begitu juga dengan kesenangannya/ keridhoannya, untuk Allah.


12. Diberi atau tidak diberi (balasan kebaikan) tidak berubah amalannya.


Lihat analogi yang baik dalam Sebuah hadits:

Perempuan, pezina, yang memberikan minum seekor anjing, dengan keikhlasan, dan Allah masukkan ia ke dalam surga.

Logika: apakah si wanita tsb akan mengharap anjing tsb mengucapkan teima kasih? Apakah si anjing tsb akan memberikan balasan kebaikan pada wanita tsb?

Subhanallah.


Diskusi

---------

1. Memberikan hadiah, dg meminta didoakan pada yg diberikan, tidak masalah. Yang penting bukan memberikan sesuatu krn mengharapkan didoakan.


2. Apakah perlu kita klarifikasi bila kita dianggap salah oleh orang lain dengan membuka kebaikan2 kita? Sebaiknya tidak. Jangan membuka lembaran kebaikan yang telah kita lakukan tapi justu tambahlah. Yang dibuka adalah lembar lembar kesalahan kita.


3. Bagaimana memudahkan keikhlasan dalam mencari ilmu? Dengan mempelajari ilmu ttg keikhlasan itu tersebdiri


4. Meninggalkan perbuatan karena nanusia itu riya, padahal sebenarnya tdk mutlak demikian, krn aebenarnya dapat dilakukan utk menjaga hati.. Sebaiknya mengerjakan perbuatan karena manusia itu syirik.


5. Niat menuntut ilmu seharusnya adalah mengangkat kebodohan dirinya, lalu bagaimana mengamalkan ilmu tsb, dan yang ketiga, bagaimana berdakwah dgn ilmu tersebut.


6. Ada amalan2 yg bisa kita lakukan tanpa istri tahu, misalnya sedekah.


7. Orang yang beramal, dari awal sudah riya,

Maka tidak diterima amalannya.

Ada jg yang di tengah2 amalan, timbul godaaan ada juga yang di akhir amalan.


Taubat itu menghapuskan dosa2 kita yang telah lalu.

Secawan Air Dari Telaga Kautsar

Saudara saudariku, berikut adalah catatan kajian dari seseorang yg hanif (semoga Allah merahmatinya dan memberikannya pahala jariyah atas ilmu yg ia ikatkan dlm catatannya untuk kita).

Semoga Bermanfaat

-----------------------------------

Abu Yahya Badrussalam lc
25 mei 2014
Mesjid al husna jakarta utara

Imam ahmad mengatakan nikmat sunnah adalah nikmat yang lebih baik di atas nikmat iman dan islam.

Nikmat atas sunnah ini akan mengantarkan kita ke surga dan meminum air telaga kautsar

Sesungguhnya aku akan mendahului kalian dan akan menunggu kalian di telaga kautsar
Hr bukhori

Telaga kautsar ada di padang mahsyar
Barang siapa yang meminum dari telaga kausar, maka dia tdk akan merasa haus selama-lamanya

Sifat telaga kautsar
- airnga lebih putih dari susu dan lebih manis dari madu
- wanginya lebih wangi dari misiq (kesturi)
- lebarnya sebulan perjalanan dg unta

Dan sungguh akan ada suatu kaum yang aku kenal mereka dan mereka kenal aku, namunterdapat penghalang di antara kami.. Rasul bertanya, ini dari kaumku. Lalundikatakan kepada rasul, engkau tdk tahu apa yg mereka perbuat sesudah engkau. Lalu rasul berkata, jauhkan mereka dariku, yang mengubah ubah sesudahku (bidah).

Apa yang menyebabkan kita dpt meminum air telaga kautsar?
1) berpegang pada sunnah
  Hr abu hurairah,
  Sesungguhnya aku meninggalkan kepada kalian dua hal, yg bila kalian berpegang teguh, niscaya tdk akan sesat. Aku akan bertemu lg dg mereka dintelaga kautsar.
   Orang yg mempelajar quran dan sunnah, tdk akan menjadi kafir.
   Bahkan dajjal pun tdk mampu menyesatkan org yg berpegang pada quran dan sunnah.
Ada hadits tentang seprang pemuda yang digergaji oleh dajjal.

Qs3:140
bagaimana kalian akan menjadi kafir, sementara kalian dibacakan terusnayat2 Allah, dan ada rasul bersama kalian

Siapa yang berpegang pada agama Allah, akan diberikan jalan yang lurus.
Al quran

2) sabar menghadapi pemimpin yg zholim
Sesungguhnya nanti akan ada al adzaroh, yakni pemimpin yg lebih mementingkan dirinya dibandingkan rakyatnya, maka bersabarlah kalian.
Sampai kapan? Sampai kalian bertemu di telaga kautsar

Hr imam muslim
Akan ada nanti pemimpin hang mengambil sunnah selain sunnahku, mengambil petunjuk selain petunjukku. Dan kelak akan ada pemimpin yg hatinya syaiton berbadan manusia. Sahabat berkata, apa yg harus kami lakukan.
Maka kata rasul, dengar dan taati, walaupun kamu dipukul atau hartamu diambil.
Bersabarlah kalian. Sampai kapan ya rasul? Sampai kalian bertemu dgnku di telaga kautsar.

3) meski kita bersabar, namun hati kita tetap mengingkari kejahatan mereka.
Hr
Akan ada pemimpin yang bodoh. Apa itu pemimpin bodoh? Yakni mereka yg mengambil petunjuk selain petunjukku, mengambil sunnah selain sunnahku, maka barangsiapa yg membenarkan mereka, membantu atas kezoliman mereka, maka mereka bukan dariku, dan aku jg bukan darinya. Mereka tdk akan singgah ke telagaku. Sebaliknya mereka yg tdk membenarkan, maka mereka adalah dariku, dan aku dari mereka. Dan mereka akan mampir ke telagaku.

Mengingkari dgn perbuatan, kata, dan hati.
Hati adalah selemah-lemah iman.

Bukan dgn melakukan demo.
Siapa yang ingin menasihati penguasa, jangan terang2an, lakukan dengan rahasia.
Jika pemimpin tdk menerimanya, maka ia telah selesai melakukan tugasnya.

Bukan dgn menebar aib, spt yg terjadi pada zaman skrg.
Ingat kisah musa dan harun (dalam alquran) menyampaikan nasihat ke firaun. Sampaikanlah dgn lemah lembut.

4) orng yg selalu menjaga sholat dan wudhu
Hr muslim dari huzaifah
Demi dzat Allah, sungguh aku akan menghalau manusia ke telagaku. Apakah engkau akan mengenali kami sebagai umatmu?
Ya kalian akan singgah, dgn ubun2 dan kaki tangan kalian yg bercahaya karena bekas air wudhu.

Hadits
Dan tidak ada yg menjaga wudhunya kecuali orang mukmin

Hadits
Rasul bertanya pada bilal, apa yg membuatmu mendahuluiku masuk surga? Bilal berkata, aku setiap kali ada hadats, berwudhu dan sholat 2 rakaat.

5) menjauhi segala macam perbuatan bid'ah.
Hadits
Setiap orang yang mengada-ada dalam agama, maka ia akan terusir dari telaga kautsar

Hadits
Nanti akan ada beberapa orang yg tdk akan bisa minum air telaga kautsar.
Hadits ini menggunakan kata ar-rijaalu, yg termasuk ketetapan, dan itu biasanya dipakai untuk gambaran sedikit.
Artinya dari hadits ini
Orng2 yg melakukan bidah, tetap akan minum telaga kautsar, setelah melewati neraka
bidah yabg termasuk maslaah akidah, yang sudah disepakati para ulama.
Spt orang2 rafidhoh, tasawwuf

6) TauhiduLlah (mentauhidkan Allah)
Hadits qudsi
Barangsiapa yg mengucapkan Laa ilaaha ilallah dengan kejujuran hatinya, pastinakan masuk surga, meski ia pezinah dan pencuri.

7) istiqamah di atas sunnah, kesabaran

8) mendapatkan syafaat dari rasulullah
Hadits
Aku diberikan pilihan oleh Allah, antara dua, setengah umatku masuk syurga, dan syafaat. Dan syafaatku adalah untuk orang yg meninggal dalam tauhid

Syafaat ada 2 macam.
1) syafaat khusus
    - syafaat kubra
    - syafaat untuk abu tholib
    - syafaat untuk ahli surga agar dapat memasuki surga
2) syafaat umum
   - untuk orang2 yg berbuat dosa besar dari ummat islam, agar mereka yg di dalam neraka, dikeluarkan dari neraka,

Syafaat itu hanya milik Allah. Manusia tdk memiliki syafaat bahkan rasulullah.
Syafaat bisa diperoleh dengan izin dan ridho Allah

Mengambil beberapa penggal ayat dari quran dalam sholat.
- ini tdk sesuai sunnah, karena kebiasaan rasulullah adalah membaca satu surat penuh

Boleh berbicara saat wudhu


Jumat, 11 Juli 2014

Luqman Al-Hakim

Assalamu'alaikum warohmatullah wabarokatuh....

Kembali menemukan bahasan mengenai Luqman Al-Hakim oleh Ustadz Salim A. Fillah. Dibahas dengan apik dalam buku beliau, Lapis-Lapis Keberkahan.

----------------------------------

Di lapis-lapis keberkahan, mari sejenak belajar dari seorang ayah, budak penggembala kambing yang bertubuh kurus, berkulit hitam, berhidung pesek, dan berkaki kecil. Tetapi manusia menggelar hamparan mereka baginya, membuka pintu mereka selebar-lebarnya, dan berdesak-desak demi menyimak kata-kata hikmahnya. Dia, Luqman ibn ‘Anqa’ ibn Sadun, yang digelari Al Hakim.

Seseorang pernah bertanya kepadanya, “Apa yang telah membuatmu mencapai kedudukan serupa ini?”

“Aku tahan pandanganku”, jawab Luqman, “Aku jaga lisanku, aku perhatikan makananku, aku pelihara kemaluanku, aku berkata jujur, aku menunaikan janji, aku hormati tamu, aku pedulikan tetanggaku, dan aku tinggalkan segala yang tak bermanfaat bagiku.”

“Dia tak diberikan anugrah berupa nasab, kehormatan, harta, atau jabatan”, ujar Abud Darda’ Radhiyallahu ‘Anhu ketika menceritakan Luqman Al Hakim. “Akan tetapi dia adalah seorang yang tangguh, pendiam, pemikir, dan berpandangan mendalam. Dia tidak pernah terlihat oleh orang lain dalam keadaan tidur siang, meludah, berdahak, kencing, berak, menganggur, maupun tertawa seenaknya. Dia tak pernah mengulang kata-katanya, kecuali ucapan hikmah yang diminta penyebutannya kembali oleh orang lain.”

“Dan Kami telah mengaruniakan hikmah kepada Luqman, bahwasanya hendaklah engkau bersyukur kepada Allah. Dan barangsiapa bersyukur, maka hanyasanya dia bersyukur bagi dirinya. Dan barangsiapa mengkufuri nikmat, sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuja.” (QS Luqman [31]: 12)

“Hikmah”, tulis Imam Ibn Katsir dalam Tafsirnya, “Yakni pengetahuan, pemahaman, dan daya untuk mengambil pelajaran.” Inilah yang menjadikan Luqman berlimpah kebijaksanaan dalam kata maupun laku. Tetapi setinggi-tinggi hikmah itu adalah kemampuan Luqman untuk bersyukur dan kepandaiannya untuk mengungkapkan terimakasih.

“Kemampuan untuk mensyukuri suatu nikmat”, ujar ‘Umar ibn ‘Abdil ‘Aziz, “Adalah nikmat yang jauh lebih besar daripada nikmat yang disyukuri itu.” Dan pada Luqman, Allah mengaruniakannya hingga dia memahami hakikat kesyukuran secara mendalam. Bersyukur kepada Allah berarti mengambil maslahat, manfaat, dan tambahan nikmat yang berlipat-lipat bagi diri kita sendiri. Bersyukur kepada Allah seperti menuangkan air pada bejana yang penuh, lalu dari wadah itu tumpah ruah bagi kita minuman yang lebih lembut dari susu, lebih manis dari madu, lebih sejuk dari salju.

Adapun bagi yang mengkufuri Allah, adalah Dia Maha Kaya, tidak berhajat sama sekali pada para hambaNya, tidak memerlukan sama sekali ungkapan syukur mereka, dan tidak membutuhkan sama sekali balasan dari mereka. Lagi pula Dia Maha Terpuji, yang pujian padaNya dari makhluq tidaklah menambah pada kemahasempurnaanNya, yang kedurhakaan dari segenap ciptaanNya tidaklah mengurangi keagunganNya.

Maka Luqman adalah ahli syukur yang sempurna syukurnya kepada Allah. Dia mengakui segala nikmat Allah yang dianugrahkan padanya dan memujiNya atas karunia-karunia itu. Dia juga mempergunakan segala nikmat itu di jalan yang diridhai Allah. Dan dia pula berbagi atas nikmat itu kepada sesama sehingga menjadikannya kemanfaatan yang luas.

“Seseorang yang tidak pandai mensyukuri manusia”, demikian Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda dalam hadits riwayat Imam At Tirmidzi, “Sungguh dia belum bersyukur kepada Allah.” Maka asas di dalam mendidik dan mewariskan nilai kebaikan kepada anak-anak sebakda bersyukur kepada Allah sebagai pemberi karunia adalah bersyukur kepada sang karunia, yakni diri para bocah yang manis itu.

Di lapis-lapis keberkahan, rasa syukur yang diungkapkan kepada anak-anak kita adalah bagian dari bersusun-susun rasa surga dalam serumah keluarga.

“Nak, sungguh kami benar-benar beruntung ketika Allah mengaruniakan engkau sebagai buah hati, penyejuk mata, dan pewaris bagi kami. Nak, betapa kami sangat berbahagia, sebab engkaulah karunia Allah yang akan menyempurnakan pengabdian kami sebagai hambaNya dengan mendidikmu. Nak, bukan buatan kami amat bersyukur, sebab doa-doamulah yang nanti akan menyelamatkan kami dan memuliakan di dalam surga.”

Inilah Rasulullah yang mencontohkan pada kita ungkapan syukur itu bukan hanya dalam kata-kata, melainkan juga perbuatan mesra. “Ya Rasulallah, apakah kau mencium anak-anak kecil itu dan bercanda bersama mereka?”, tanya Al Aqra’ ibn Habis, pemuka Bani Tamim ketika menghadap beliau yang sedang direriung oleh cucu-cucu Baginda.

“Mereka adalah wewangian surga, yang Allah karuniakan pada kita di dunia”, jawab beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sembari tersenyum.

“Adalah aku”, sahut Al Aqra’ ibn Habis, “Memiliki sepuluh anak. Dan tak satupun di antara mereka pernah kucium.”

“Apa dayaku jika Allah telah mencabut rahmatNya dari hatimu? Barangsiapa yang tidak menyayangi, dia tidak akan disayangi.”

“Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya dan dia sedang memberi pengajaran kepadanya, ‘Duhai anakku tersayang, janganlah engkau mempersekutukan Allah. Sesungguhnya kesyirikan adalah kezhaliman yang besar.” (QS Luqman [31]: 13)

Dengarlah Luqman memanggil putranya, Tsaran ibn Luqman dengan sapaan penuh cinta, “Ya Bunayya.. Anakku tersayang.” Alangkah besar hal yang akan dia ajarkan. Betapa agung nilai yang akan dia wariskan. Yakni tauhid. Bahwa Allah adalah Rabb, Dzat  yang telah mencipta, mengaruniakan rizqi, memelihara, memiliki, dan mengatur segala urusannya. Maka mempersekutukan Dia; dalam ibadah, pengabdian, dan ketaatan adalah sebuah kezhaliman yang besar.

Kenalkanlah Allah pada anak-anak kita sejak seawal-awalnya, dengan cara yang paling pantas bagi keagungan dan kemuliaanNya. Kenalkanlah Allah pada anak-anak kita dari semula-mulanya, dengan kalimat yang paling layak bagi kesucian dan keluhuranNya. Kenalkanlah Allah pada anak-anak kita mulai sepangkal-pangkalnya, dengan ungkapan dan permisalan yang paling sesuai bagi kesempurnaan dan kebesaranNya.

Sebab janji kehambaan seorang makhluq telah diikrarkan sejak di alam ruh, maka membisikkan tauhid ke dalam kandungan, melirihkannya pada telinga sang bayi dalam buaian, atau menyenandungkannya sebagai pengajaran adalah baik adanya.

“Dan Kami wasiatkan kepada manusia kebaikan terhadap kedua orangtuanya; ibunya yang telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun, ‘Bersyukurlah kepadaKu dan kepada kedua orangtuamu. KepadaKulah tempat kembalimu.”(QS Luqman [31]: 14)

Maha Mulia-lah Dzat yang dalam pembicaraan tentang keesaanNya dari pengajaran seorang ayah kepada putra, Dia meminta perhatian sejenak tentang hak kedua orangtua. Maha Agung-lah Dzat yang dalam penuturan tentang ketauhidanNya dari wasiat seorang bapak kepada anak, Dia mengingatkan kita tentang kebaikan yang wajib kita tanggung terhadap sosok yang telah mengandung, melahirkan, mendidik, dan menumbuhkan kita.

Sesungguhnya lisan perbuatan jauh lebih fasih daripada lisan perucapan. Maka apa yang dilihat oleh anak-anak kita akan terrekam lebih kokoh di dalam benak dan jiwa mereka dibanding semua kata-kata yang coba kita ajarkan padanya. Maka siapapun yang merindukan anak berbakti bakda ketaatannya kepada Allah, bagaimana dia memperlakukan kedua orangtua adalah cermin bagaimana kelak putra-putrinya berkhidmat kala usia telah menua.

Allah menyatukan antara kesyukuran padaNya dengan kesyukuran pada orangtua, sebab melalui ayah dan ibulah Dia mencipta kita, memelihara, mengaruniakan rizqi, serta mengatur urusan. Ayah dan ibu adalah sarana terjadinya kita, terjaganya, tercukupi keperluannya, serta tertata keadaannya. Maka Allah menganugerahkan kehormatan kepada mereka dengan doa yang indah, “Rabbighfirli wa li walidayya warhamhuma kama rabbayani shaghira.”

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tiada pengetahuan bagimu terhadapnya, maka janganlah kau taati keduanya. Dan persahabatilah mereka berdua di dunia dengan baik. Dan ikutilah jalan orang yang kembali bertaubat kepadaKu, kemudian hanya kepadaKulah tempat pulang kalian, maka akan Kuberitakan pada kalian apa-apa yang telah kalian kerjakan.” (QS Luqman [31]: 15)

Allah memberikan batas yang jelas tentang bakti kepada orangtua, yakni lagi-lagi tauhid itu sendiri. Tidak ada ketaatan kepada makhluq, siapapun dia, semulia apapun dia, dalam rangka bermaksiat kepada Al Khaliq. Tapi berbedanya keyakinan orangtua yang masih musyrik dengan kita yang mengesakan Allah sama sekali tak menggugurkan perlakuan yang patut dan sikap bakti yang terpuji terhadap mereka.

Jalan untuk menjadi orangtua yang mampu mendidik anaknya juga hendaknya mengikuti jalan orang-orang yang bertaubat nashuha. Sebab tak ada yang suci dari dosa selain Sang Nabi, maka sebaik-baik insan adalah yang menyesali salah, memohon ampun atasnya, memohon maaf kepada sesama, serta berbenah memperbaiki diri. Pun demikian terhadap anak-anak kita.

Banyakkan istighfar atas ucapan dan perlakuan kepada putra-putri kita. Jangan malu mengakui kekhilafan dan meminta maaf kepada mereka. Teruslah memperbaiki diri dengan ilmu dan pemahaman utuh bagaimana seharusnya menjadi seorang Ayah dan Ibu yang amanah. Sebab kelak, ketika seluruh ‘amal kita kembali tertampak, Allah pasti menanyakan segenap nikmat yang telah kita kecap, dan meminta pertanggungjawaban atas segala perbuatan. Pada hari itu, seorang anak yang tak dipenuhi hak-haknya oleh orangtua untuk mendapatkan ibunda yang baik, lingkungan yang baik, nama yang baik, serta pengajaran adab yang baik; berwenang untuk menggugat mereka.

“Duhai anakku tersayang, sungguh seandainya ada sesuatu yang seberat timbangan biji sawi tersembunyi di dalam sebuah batu, atau di lapis-lapis langit, atau di petala bumi; niscaya Allah akan mendatangkan balasannya. Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Tahu.” (QS Luqman [31]: 16)

Luqman melanjutkan pengajarannya dengan menjelaskan hakikat ‘amal baik dan buruk serta dasar dorongan beramal yang sejati. Ini dilakukannya sebelum memberi perintah tentang ‘amal shalih di kalimat berikutnya. Sungguh, menanamkan pada anak-anak kita bahwa Allah senantiasa ada, bersama, melihat, mendengar, mengawasi, dan mencatat perbuatan dan keadaan mereka, jauh lebih penting dibanding perintah ‘amal itu sendiri.

Sungguh memahamkan pada anak bahwa Allah-lah yang senantiasa hadir di setiap ‘amal maupun hal, bahwa Dia Maha Mengetahui segala yang tampak maupun tersembunyi, yang mereka lakukan kala ramai bersama maupun sunyi sendiri, adalah dasar terpenting sebelum memerintahkan kebajikan dan melarang dari kemunkaran. Dan bahwa Allah akan membalas semua itu dengan balasan yang setimpal dan sempurna.

Penting bagi kita untuk mengatakan pada mereka, “Nak, Ayah dan Ibu tak selalu bias bersamamu dan mengawasimu, tapi Allah senantiasa dekat dan mencatat perbuatanmu. Dia Maha Melihat dan Maha Mendengar. Jangan takut kalau kamu berlaku benar dan berbuat baik, sebab Dia akan selalu menolongmu. Jangan khawatir ketika kamu berlaku benar dan berbuat baik, sebab sekecil apapun ‘amal shalihmu, meski Ayah dan Ibu serta Gurumu tak tahu, tak dapat memuji maupun memberikan hadiah padamu; tetapi Allah selalu hadir dan balasan ganjaran dari Allah jauh lebih baik dari segala hal yang dapat diberikan oleh Ayah dan Ibu.”

“Demikian pula Nak, jika kamu berbuat keburukan atau berbohong, sekecil apapun itu, meski Ayah, Ibu, maupun Ustadzmu tak menyadarinya, sungguh Allah pasti tahu. Dialah Dzat yang tiada satu halpun lepas dari pengetahuan dan kuasaNya, hatta daun yang jatuh dan langkah seekor semut di malam gulita. Dan Allah juga pasti memberi balasan yang adil pada setiap kedurhakaan padaNya, juga atas keburukan yang kamu lakukan pada Ayah, Ibu, dan sesama manusia lainnya.”

Inilah dia pokok-pokok pengajaran; dari sejak rasa syukur, tauhid, bakti kepada orangtua, taubat, hingga pemahaman akan hakikat ‘amal di hadapan Allah. Ianya harus menjadi perhatian setiap orangtua bahkan sebelum memerintahkan ‘amal terpenting di hidup anak-anak mereka yang akan dihisab pertama kalinya, yakni shalat. Kini kita tepekur menganggukkan kepala, mengapa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberi arahan agar kita memerintahkan shalat kepada anak barulah ketika dia berumur tujuh, dan barulah orangtua diizinkan memberi pukulan yang tidak menyakitkan dan tidak menghinakan pada umur sepuluh tahun ketika anaknya menolak shalat.

Sebab sebelum tujuh tahun, ada hal-hal jauh lebih besar yang harus lebih didahulukan untuk ditanamkan padanya.

“Duhai anakku tersayang, tegakkanlah shalat, perintahkanlah yang ma’ruf, cegahlah dari yang munkar, dan bersabarlah atas apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara-perkara yang ditekankan.” (QS Luqman [31]: 17)

“Dirikanlah shalat dengan menegakkan batas-batasnya”, tulis Imam Ibn Katsir dalam Tafsirnya, “Menunaikan fardhu-fardhunya, serta menjaga waktu-waktunya.” Shalat yang mencegah perbuatan keji dan munkar pada diri selayaknya diikuti tindakan untuk mengajak dan menjaga manusia supaya tetap berada di dalam kebaikan dan terjauhkan dari keburukan. Shalat yang kita ajarkan pada anak-anak kita sudah selayaknya membentuk jiwa dakwah yang tangguh pada dirinya, hingga dia mampu bersabar atas segala yang menimpanya di dalam beriman, berislam, berihsan, berilmu, dan berdakwah.

“Dan janganlah engkau memalingkan muka dari manusia serta jangan berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanalah engkau dalam berjalan, serta tahanlah sebagian suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai.” (QS Luqman [31]: 18-19)

Kata “Ash Sha’r”, menurut Imam Ath Thabari asalnya bermakna penyakit yang menimpa tengkuk seekor unta sehingga kepala dan punuknya melekat dengan wajah yang terangkat ke atas lagi bergerak ke kiri dan ke kanan di kala berjalan. Luqman melarang putranya dari mengangkat wajah dan memalingkan muka semacam itu dengan rasa sombong yang berjangkit di hati.

Inilah buah dari iman, ilmu, ‘amal, dan dakwah dari seorang putra yang dididik oleh ayahnya. Ialah akhlaq yang indah kepada sesama, berpangkal dari lenyapnya rasa angkuh dalam dada sebab mengenal dirinya dan merundukkan diri karena tahu bahwa dia hanya salah satu makhluq Allah yang memiliki banyak kelemahan serta kesalahan. Inilah akhlaq itu, yakni saripati yang manis, harum, dan lembut dari buah pohon yang akarnya kokoh menghunjam, batangnya tegak menjulang, dan cecabangnya rimbun menggapai langit.

Dan akhirnya, akhlaq itu disuguhkan dalam tampilan yang paling menawan berupa terjaganya Adab dengan cara berjalan yang sopan dan patut serta cara bicara yang lembut dan santun. Inilah pengajaran sempurna dari Luqman kepada putranya, digenapi dengan panduan mengejawantahkan akhlaq menjadi adab. Akhlaq adalah nilai kokoh yang menetap dalam jiwa. Adab mengenal zaman dan tempat yang bertepatan baginya.

Inilah bersusun-susun rasa surga di serumah keluarga, teladan dari Luqman dalam mewariskan nilai-nilai kebajikan pada anaknya, di lapis-lapis keberkahan yang penuh cinta.

sepenuh cinta,

salim a. fillah

http://salimafillah.com/seorang-ayah-di-lapis-berkah/

Selasa, 11 Maret 2014

Aku Sangat Membutuhkan-Mu

Segala puji untuk Allah, Yang menciptakan manusia dan tidak membutuhkan mereka, Yang menciptakan mereka agar mau tunduk dan mengagungkan-Nya, Yang segala manfaat dan madharat ada di tangan-Nya. Semoga pujian dan keselamatan terlimpah kepada Nabi pilihan, sang kekasih ar-Rahman, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Amma ba’du.

Saudaraku, menjalani kehidupan di alam dunia adalah sebuah cobaan dari Rabbul ‘alamin. Allah ta’ala berfirman :

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

“Yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian, siapakah di antara kalian yang terbaik amalnya.” (QS. al-Mulk: 2).

Untuk itulah, sebaik-baik insan adalah yang senantiasa menghadirkan perasaan bahwa Rabbnya sedang mengujinya, dengan apapun yang sedang dialaminya; kesenangan, musibah, ataupun terjerembab dalam dosa.
Apakah dia bisa menjadi seorang hamba yang merendahkan diri dan mengagungkan Rabbnya dengan penuh rasa cinta kepada-Nya, yaitu dengan mempersembahkan ibadahnya hanya untuk Dia semata.

Sebagaimana ayat yang selalu kita baca setiap harinya, di setiap raka’at sholat yang kita lakukan. Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in. ‘Hanya kepada-Mu –ya Allah- kami beribadah, dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan.’ Dari situlah, maka segala bentuk kejadian yang menimpanya semestinya dapat menjadi sarana untuk menggapai ridha dan cinta-Nya.

Tatkala kenikmatan menyapa, maka segenap rasa syukur pun dia panjatkan kepada-Nya. Tatkala musibah melanda dan menyayat hati, maka ridha dengan takdir dan bersabar menerima kenyataan adalah ibadah yang akan menghiasi hati, lisan, dan anggota badannya.

Demikian pula, ketika hawa nafsu dan bujukan syaitan memperdaya dirinya sehingga dia pun menerjang larangan atau melalaikan kewajibannya, maka kesejukan taubat dan air mata penyesalan akan menghampiri jiwanya.

Saudaraku, berapa banyak kenikmatan yang telah dicurahkan Rabbul ‘alamin kepada kita? Entah berapa banyak, tak ada seorang profesor pun yang yang bisa menjawabnya. Namun, lihatlah keadaan dan tingkah laku kita… Betapa sedikit rasa syukur kita kepada-Nya, dan betapa banyak kemaksiatan yang kita lakukan kepada-Nya. Orang bilang, ‘air susu dibalas air tuba’. Alangkah buruknya, akhlak kita kepada-Nya…

Kita mengaku muslim (orang yang pasrah), namun betapa sering kita membantah aturan dan kebijaksanaan-Nya.

Kita mengaku beriman, namun betapa sering perintah dan larangan-Nya kita ingkari serta berita-Nya yang kita abaikan.

Aduhai, apakah kita merasa mampu membahayakan Rabb yang menguasai jagad raya, dengan kedurhakaan kita kepada-Nya? Demi Allah, hal itu tidaklah bisa membahayakan-Nya! Kamu ini hidup untuk apa?!

Allah berfirman :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Tidaklah Kuciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyat: 56)

Saudaraku, banyak orang mengira dengan maksiat mereka akan meraih bahagia. Padahal, sebaliknya. Kebahagiaan sejati tak pernah bisa diraih dengan kedurhakaan kepada-Nya. Seorang profesor yang mulia Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad hafizhahullah beberapa waktu lalu –dalam ceramahnya di Masjid Istiqlal Jakarta- menyampaikan nasehat yang sangat indah untuk kaum muslimin di Indonesia. Beliau berkata, ‘as-Sa’aadah biyadillah, wa laa tunaalu illa bi thaa’atillah’.

Kebahagiaan itu ada di tangan Allah, dan ia tak akan diraih kecuali dengan taat kepada Allah. Sebuah kalimat yang ringkas, namun sarat akan makna! Semoga Allah membalas beliau dengan sebaik-baik balasan atas nasehat dan arahannya untuk kita…

Saudaraku, demikianlah kenyataannya. Tak ada setetes pun kebahagiaan yang hakiki yang akan diperoleh seorang hamba yang lemah dan penuh dengan kekurangan kecuali dengan cara tunduk dan taat kepada Rabb yang menciptakannya. Oleh sebab itu, Allah mengingatkan segenap insan di alam dunia ini bahwa keberuntungan dan kebahagiaan hanya diberikan kepada mereka yang benar-benar taat dan mengabdi kepada-Nya. Allah berfirman :

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa, sesungguhnya semua orang benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal salih, serta saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati dalam kesabaran.” (QS. al-‘Ashr: 1-3).

Allah juga mengingatkan :

فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى

“Barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, maka dia tidak akan sesat dan tidak akan binasa.” (QS. Thaha: 123).

Allah berfirman :

فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Barangsiapa yang dibebaskan dari neraka, dan dimasukkan ke dalam surga maka sesungguhnya dia telah beruntung/sukses. Tidaklah kehidupan dunia ini melainkan sekedar kesenangan yang menipu.” (QS. Ali Imran: 185).

Allah ‘azza wa jalla juga menyatakan :

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى (40) فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى (41

“Adapun barangsiapa yang merasa takut akan kedudukan Rabbnya dan menahan dirinya dari memperturutkan hawa nafsunya, maka surgalah tempat kembalinya.” (QS. an-Naazi’aat: 40-41)

Ibnu Abil ‘Izz al-Hanafi rahimahullah berkata, “Tidak ada kehidupan bagi hati, tidak juga kesenangan dan ketenangan, kecuali dengan cara mengenal Rabb, sesembahan, dan pencipta dirinya. Yaitu dengan mengenal nama-nama, sifat-sifat, serta perbuatan-perbuatan-Nya. Di samping itu semua, dia menjadikan Allah sebagai sesuatu yang lebih dicintainya di atas segala-galanya. Oleh sebab itulah, usaha yang dilakukannya –di alam dunia ini – adalah untuk melakukan perkara-perkara yang dapat mendekatkan diri kepada-Nya, bukan kepada selain-Nya yang mereka itu semua adalah makhluk-Nya.” (Syarh Aqidah Thahawiyah)

Maka berbahagialah orang yang diberikan taufik oleh Allah untuk mengenal Islam dan mencintainya, mengenal Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengikuti ajarannya, serta menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan dan tempat bergantungnya hati baginya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ذَاقَ طَعْمَ الْإِيمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللهِ رَبًّا، وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا

“Akan bisa merasakan lezatnya iman, yaitu orang yang ridha Allah sebagai Rabbnya, ridha Islam sebagai agama, dan Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam- sebagai rasul.” (HR. Muslim dari al-Abbas bin Abdul Muthallib radhiyallahu’anhu).

Lezatnya keimanan, bukan diraih dengan mencicipi berbagai macam resep masakan di berbagai restoran dan rumah makan. Apalagi dengan melakukan perkara-perkara yang mengundang murka Allah yang sangat keras hukumannya. Hal ini menunjukkan kepada kita –wahai saudaraku yang mulia, semoga Allah menyelamatkan kita dari pedihnya neraka- bahwa kebahagiaan yang bersemayam di dalam dada dalam bentuk ridha kepada takdir-Nya, selalu merasa di bawah pengawasan-Nya, ingin menggapai cinta dan ridha-Nya, berharap dan takut kepada-Nya, merupakan kelezatan tiada tara yang menghiasi hati orang-orang yang mengenal keagungan Rabbnya. Kelezatan yang bisa diraih dengan taat kepada-Nya. Mereka itulah sesungguhnya orang yang benar-benar hidup di alam dunia ini, dengan cahaya iman dan ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya.

Adapun orang-orang ‘tampak berbahagia’ di alam dunia yang fana ini, sementara mereka adalah para pembangkang dan pembantah aturan-Nya, maka sesungguhnya kebahagiaan mereka adalah kesenangan yang semu dan akan berakhir dengan kesengsaraan yang tiada tara. Aduhai, betapa malang orang yang menjual kebahagiaan hakiki dan abadi dengan kesenangan yang semu dan sementara!
Mereka tersenyum, tertawa, dan penuh keceriaan, padahal mereka bergelimang dengan dosa dan kemaksiatan kepada Rabbnya. Mereka tampakkan kepada manusia seolah-olah mereka bahagia dengan kemaksiatannya. Mereka gambarkan kepada manusia bahwa dengan meninggalkan perintah Allah dan rasul-Nya akan memberikan jalan pintas bagi siapa saja untuk meraih kepuasan dan kenikmatan yang luar biasa. Subhanallah, Maha suci Allah… alangkah buruk perbuatan mereka. Mereka rela menjual agamanya demi mendapatkan secuil kenikmatan dunia. Yang dunia itu di sisi Allah tidak lebih berharga daripada sehelai sayap nyamuk! Allahu akbar!

Maka ingatlah selalu wahai saudaraku –semoga Allah meneguhkan diriku dan dirimu di jalan-Nya- kehidupan kita di dunia ini akan berakhir dengan kematian dan bersambung di alam kubur dan hari kebangkitan. Akan ditanyakan kepada kita ‘siapakah sesembahanmu, apa agamamu, siapakah nabimu’. Apakah akan kita jawab nanti bahwa sesembahan kita adalah hawa nafsu, agama kita adalah kebebasan ala binatang, dan nabi kita adalah para wali-wali syaitan? Ya Allah, lindungilah kami dari pedihnya hukuman-Mu…
Lantas, pada saat ini ketika kaki kita masih menginjakkan bumi yang Allah ciptakan, paru-paru kita masih menghirup udara yang Allah ciptakan, tenggorokan kita masih terbasahi dengan air yang Allah alirkan, kulit kita masih merasakan hangatnya sinar matahari yang Allah ciptakan, mata kita masih bisa memandang berkat adanya cahaya yang Allah ciptakan, jantung kita pun masih berdegup mengalirkan darah yang Allah ciptakan, lidah kita masih bisa bergerak dan melontarkan kata-kata yang semuanya pasti Allah dengarkan, maka adakah di antara kita yang membusungkan dadanya di hadapan manusia dan berkata, “Ya Allah, aku tidak membutuhkan-Mu selama-lamanya!”?
Tentu saja, tidak ada orang sebodoh itu yang mampu melakukannya.

Namun, kenyataannya tingkah laku dan perbuatan kita menunjukkan betapa cueknya kita terhadap aturan dan bimbingan-Nya. Seolah-olah tidak ada gunanya Allah mengutus rasul-Nya, tidak ada gunanya Allah turunkan kitab-Nya, dan tidak ada gunanya Allah ciptakan surga dan neraka… Karena kita telah disibukkan dan tenggelam dalam kedurhakaan kepada-Nya…. Dan kita jadikan umur kita habis untuknya, cinta dan benci bukan karena-Nya, memberi dan tidak bukan karena-Nya, diam dan bergerak juga bukan karena-Nya. Bahkan, yang lebih jelek lagi… kita telah memandang keburukan dan dosa kita sebagai kebaikan dan jasa, na’udzu billahi min dzaalik. Afaman zuyyina lahu suu’u ‘amalihi fa ra’aahu hasana..

Maka ketahuilah saudaraku, bahwa kita –tanpa terkecuali- sangat membutuhkan-Nya, di mana saja dan kapan saja kita berada. Karena sesungguhnya langit dan bumi serta segala sesuatu yang di dalamnya adalah berada di bawah kekuasaan dan aturan-Nya. Apa saja yang Allah kehendaki pasti terjadi, dan apapun yang tidak Allah kehendaki tidak akan pernah terjadi. Karenanya taufik adalah di tangan-Nya, bukan di tangan kita… maka mintalah kepada-Nya semoga Allah mencurahkan taufik dan bimbingan-Nya kepada kita dan tidak menelantarkan kita dalam kebingungan dan dibiarkan hidup tanpa bantuan dari-Nya. Apakah engkau wahai raja, merasa tidak butuh kepada-Nya? Apakah engkau wahai orang kaya, merasa tidak butuh kepada-Nya? Apakah engkau wahai tentara, merasa tidak butuh kepada-Nya? Apakah engkau wahai orang yang rupawan dan berparas jelita merasa tidak butuh kepada-Nya? Apakah engkau wahai para da’i, merasa tidak butuh kepada-Nya?

Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin

Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi
Artikel Muslim.Or.Id